Kelima, ceramah atau khotbahnya menggebu-gebu dan meyakinkan seperti motivator. Jauh dari menyejukkan hati.
Baca Juga: Nurul Ghufron Gugat Peraturan Dewas KPK ke Mahkamah Agung
Keenam, ia punya massa dan memposisikan dirinya sebagai seorang artis. Hidup mewah dan glamor.
Ketujuh, memasang tarif mahal untuk melakukan pelayanan; atau mengisi pengajian.
Kedelapan, ia menjual ayat sesuai kepentingannya. Apakah itu ayat sedekah, ayat harta, ayat politik, ayat kepemimpinan, dan lain-lain. Sesuai pesananlah!.
Kesembilan, mengaku-ngaku dapat mimpi, dapat ilham dan petunjuk Tuhan.
Baca Juga: Korea Utara Teror ‘Para Pembelot’ di Korea Selatan
Dan kesepuluh, ucapannya berbeda jauh dengan kelakuannya. Istilah Jawa, ia kyai Jarkoni. Hanya ujar tapi tidak nglakoni; ucapannya berbeda dengan tindakannya.
Buya Syafii jauh dari semua itu. Ia menolak jabatan negara yang memberinya gaji besar.
Bila dapat rejeki, Buya berbagi dengan orang miskin. Buya pun rajin sedekah. Bahkan membawa sendiri sedekahnya ke orang miskin sampai jauh ke pelosok Gunung Kidul, DIY.
Idola Buya Syafii – seperti sering beliau tulis di media massa dan beliau katakan di berbagai ceramah – adalah Pak AR atau KH Abdur Rozaq Fachrudin, Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1968-1990).
Baca Juga: Opini: Pancasila dan Warisan Dunia (Mengenang 2 Tahun Wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif)
Buya Syafii menyontoh kehidupan Pak AR yang sangat sederhana. Sampai akhir hidupnya, Pak AR tidak punya rumah pribadi.
Dengan mata berkaca-kaca, Buya Syafii dalam sebuah ceramah menyatakan – ampun Pak AR saya masih merasa membutuhkan rumah pribadi.
Sedangkan Pak AR telah memotong tali yang mengikatnya di bumi, untuk terbang ke Langit.
Artikel Terkait
Opini: Buya Syafii dan Mbah Moen
Opini: Buya Syakur dan Fikih Gender
Opini: Amicus Curiae dan Megawati
Opini: Enny (Hakim MK). Ketukan Palumu Ditunggu RA Kartini dan Dewi Keadilan
Opini: Pulanglah, Joko Pinurbo
Opini: Pancasila dan Warisan Dunia (Mengenang 2 Tahun Wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif)