Oleh Mukti Ali Qusyairi, Intelektual Muda Indonesia
KH. Imam Jazuli—selajutnya disebut Kiyai Imjaz--namanya kian melejit dan sudah ada banyak yang menulis tentangnya. Seperti pohon, semakin tinggi maka akan semakin kencang anginnya. Seorang tokoh pun demikian, semakin namanya melejit dan diperhitungkan maka semakin banyak badai menerjang.
Di antaranya belakangan saya membaca tulisan yang menyebar di faceboon dan WAG yang berjudul “Menakar Mimpi Imjaz: Refleksi Kritis Atas Kepemimpinan NU Masa Depan”. Memang belakngan Kiyai Imjaz salah satu tokoh yang selalu menarik dianalisa—baik kritis atau setuju. Saya membaca berdasarkan pengetahuan saya apa yang ada di dalam tulisa itu tidaklah begitu. Ada beberapa poin yang perlu direspons dari tulisan itu:
1. Kedekatan dengan Pesantren
Dalam tulisan itu baro meter kedekatan dengan pesantren adalah dengan ikut hadir ngaji Kitab al-Hikam yang dilansakanan Kamis Legi di Pesantren Lirboyo. Karena Kiyai Imjaz tidak tampak dalam pengajian itu, sehingga dipertanyakan kedekatan dengan pesantren almamataernya, Lirboyo, dan tidak sampai ke jenjang Aliyah. Penilaian ini terlalu parsial, sempit, dan subjektif.
Selain itu, kalau kita lihat sejarahnya, Lirboyo dirintis oleh KH. Abdul Karim dan Ibu Nyai Hj Dhomroh sejak 1910. Semula masih menggunakan ngaji sorogan, bandongan, makna berbaris, dan belum ada sistem klasikal. 15 tahun kemudian, pada 1925, Lirboyo baru menerapkan sistem klasikan dengan didirikannya MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadiin). Semula hanya kelas Ibtidaiyah, lalu Tsanawiyah. Cukup lama MHM hanya membuka kelas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Pada sekitar tahun 1983-an baru dirintis kelas Aliyah. Karena dalam catatan sejarah bahwa di antara yang tamat Aliyah pertama pada tahun 1986 siswanya adalah KH. Ma’ruf pengasuh ar-Risalah Lirboyo.
Sedangkan ribuan kiyai alumni Lirboyo sebelum tahun 1983, mengenyam kelas Ibtidaiyah dan Tsanawiyah MHM. Bisa disebutkan di antaranya Mbah KH. Maemon Zubair, KH. Bisri Musthafa (Gus Mus), Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj yang mesantern di Lirboyo dari 1965-1971 dan juga adiknya yang menjadi kiai kondang dan pengasuh pesantren Kempek Cirebon KH. Musthofa Aqil juga pada periode yang sama, dan yang lainnya.
Pelajaran Tsanawiyah Lirboyo sudah tergolong tinggi. Materi fikih kitab Fathul Mu’in, materi nahwu kitab Alfiyah Ibnu Malik, Balaghah kitab Jauhar Maknun, Ushul Fikih Waraqat dan Lubbul Ushul, tauhid Ummul Barahin, materi ilmu mantik (logika) kitab Sulam al-Munawwaraq, dan seterusnya. Karena itu saat ini, yang dulu Kiyai Imjaz selesai dari kelas Tsanawiyah diubah menjadi kelas Aliyah, dan kelas Aliyah diganti menjadi Ma’had ‘Aly. Sebab, memang pelajaran Aliyah Lirboyo sudah selevel S1 dan bahkan S2.
Saya ingat dulu waktu di Mesir, ternyata yang dulu Mahally Qalyubi wa ‘Umairah sudah saya khatamkan di kelas Aliyah ternyata mata kuliah S1 Al-Azhar Mesir fakultas Syariah dan Alfiyah Ibnu Malik kelas Tsanawiyah menjadi mata kuliah S1 Jurusan Adab. Lebih mencengangkan lagi, Jam’ul Jawami kitab ushul fikih yang dulu saya khatamkan di kelas Aliyah Lirboyo ternyata menjadi mata kuliah S2 di Al-Azhar Mesir.
Agaknya ada banyak kiai yang tidak sempat datang ngaji Kamisan di Lirboyo karena kesibukan mereka. Saya yakin semua alumni ingin sekali datang termasuk Kiyai Imjaz. Kiai Imam Jazuli memiliki 4 pesantren dengan 5000 lebih tentu waktunya sangat padat. Kita sesama alumni memang sebaiknya saling memaklumi, saling mendoakan, dan lapang dada atas ketidaksempatan atau belum sempat Nagji Kamisan. Mungkin saja di masa depan akan hadir dan lebih rajid mengikuti ngaji Kamisa di Lirboyo.
Kita seharusnya memandang dengan kacamata yang lebih luas bahwa meski Kiai Imjaz—dan banyak lagi kiyai lain—alumni Tsanawi Lirboyo, tidak sampai melanjutkan ke tingkat Aliyah, karena melanjutkan studi ke Timur Tengah. Banyak sekali kiai-kiai lain yang tidak tabarrukan sampai ke jenjang Aliyah karena belum ada kelas Aliyah atau karena ada keinginan tabarukan ke pesantren lain, atau studi ke tempat lain, atau alasan yang lain. Tapi semua adalah alumni.
Saya lihat di facebook dan media kalau Kiyai Imjaz sowan dan sungkem kepada KH. Kafabihi Mahrus di Lirboyo sebelum ke Ploso mengikuti acara Munar PBNU. Kiyai Imjaz juga menulis di media profil KH. Kafabihi Mahrus dengan penuh hormat dan memuliyakan. Ketika Kiyai Sepuh Lirboyo KH. Anwar Mansur diframing oleh oknum wartawan Trans7, Kiyai Imjaz adalah tokoh yang paling keras membela KH. Anwar Mansur, mengkritik Trans7, dan Ibu Nyai Hj. Ning Ain ‘Ainul Mardhiyyah Anwar—yang akrab disebut Ning Ain—juga diundang Kiyai Imjaz di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon. Beberapa kali juga saya melihat jamiyah Jausyan HIMASAL Cirebon diadakan di pesantrennya, Bima. Mungkin masih banyak jejak-jejak kedekatan dan hubungan emosional Kiyai Imjaz dengan almamaternya Lirboyo.
2. Kiai Imam Jazuli orang PKB
Kiyai Imjaz setahu saya seorang kiyai yang independen, bukan pengurus struktural di partai manapun. Bisa dicek di struktur PKB sama sekali tidak ada nama Kiyai Imjaz. Hanya saja pandangan politiknya sebagai strategi menguatkan politik aswaja, beliau seorang ideolog, memahami betul bertahannya sebuah ideologi dibutuhkan kekuatan politik dan wajar jika menganggap PKB adalah kekuatan itu. Karena PKB adalah satu-satunya partai yang berideologi Aswaja. Jadi tanggung jawab moral beliau menjaga ideologi aswaja.
Tidak bisa kita menutup mata bahwa PKB lah partai yang memperjuangkan Undang-Undang Pesantren, Hari Santri Nasional tentu saja Cak Muhaimin Iskandar didukung oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, sebagai kekuatan PBNU.