Oleh: Dr. Abdul Aziz, M.Ag, Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said, Surakarta
SENAYANPOST - Sejarah Kehidupan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif (31 Mei 1935 -27 Mei 2022), sampai hari ini, terus menjadi perbincangan publik.
Wawasan keilmuannya yang luas, kesederhanaannya yang menyentuh hati, keislamannya yang inklusif, kecintaannya kepada negara dan falsafah Pancasila yang terus menyala, menjadikan Buya Syafii sebagai "teladan" bangsa Indonesia.
Bagi saya, Buya Syafii yang wafat dua tahun lalu, adalah contoh kongkrit orang yang mengamalkan Pancasila secara inklusif.
Buya benar-benar, menghayati makna Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa Indonesia.
Baca Juga: Nasehat Ketua Umum PP Muhammadiyah untuk Timnas ; Kalah, Masih Ada Asa
Buya adalah Pancasilais sejati, yang kehidupannya memberikan teladan kepada kita semua.
Buya Syafii dalam setiap kesempatan selalu menyatakan, bahwa bangsa Indonesia harus menghayati dan melaksanakan Pancasila dengan segenap jiwa dan raga.
Tanpa itu, bangsa Indonesia akan kehilangan elan vital kehidupannya dalam berbangsa dan bernegara.
Pancasila, bagi Buya Syafii -- panggilan akrab Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1998-2005) itu -- merupakan pedoman hidup paripurna yang mampu menyatukan bangsa yang bhinneka di nusantara.
Baca Juga: Link Live Streaming Indonesia vs Irak, Perebutan Posisi Ketiga Piala Asia U23 2024 Malam Ini
Tampaknya Buya Syafii menghayati betul pikiran Bung Karno, bahwa Pancasila adalah ideologi paripurna yang berasal dari falsafah hidup bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, ras, agama, budaya, dan bahasa.
Sedemikian pentingkah Pancasila di mata Buya Syafii yang hidup di abad 21, di era internet ini? Apakah netizen yang hidup di dunia digital yang borderless masih membutuhkan ideologi Pancasila?
Buya Syafii menjawab, Pancasila adalah ideologi yang dibutuhkan -- tidak hanya oleh warga negara Indonesia, tapi juga warga dunia. Manusia membutuhkan Pancasila untuk survivalitas hidupnya di muka bumi.
Artikel Terkait
Ekonomi Pancasila dari Perspektif Hankamnas (Sebuah Refleksi Atas Kasus-kasus Aktual)
Opini: Cara Pengambilan Keputusan dalam Demokrasi Pancasila
Opini: Bung Karno, Tito, dan Ekonomi Pancasila
如何在建国五项原则(Pancasila) 民主做决定
Opini: Amicus Curiae dan Megawati
Opini: Enny (Hakim MK). Ketukan Palumu Ditunggu RA Kartini dan Dewi Keadilan
Opini: Pulanglah, Joko Pinurbo