Gloria, istri Kenneth, bergerak lebih jauh. Ia mendekati Donald Trump. Ia menjual jamaahnya kuntuk menjadi pendukung Trump.
Karena ia terkenal, jamaahnya banyak, Trump pun menjadikan Gloria sebagai pendeta keluarga besar Trump. Lalu Gloria berkampanye untuk Trump, sekaligus menjadi buzzernya.
Trump pun menang Pilpres AS. Walhasil, dagangan “iman” Kenneth & Gloria Copeland laris manis. Pasangan pendeta ini pun kaya raya. Tak peduli kini banyak orang mencibirnya.
Di Turki, ada “tokoh agama” yang khotbah lisan dan tulisannya, sangat terkenal di dunia Islam.
Namanya Harun Yahya, alias Adnan Oktar. Buku-buku karya Harun Yahya best seller di Indonesia. Pria kelahiran tahun 1956 ini, berkat kepintaran menjual agama dan Tuhan, kaya raya dan mempunyai harem untuk menampung puluhan wanita cantik, sebagai pemuas nafsu seksualnya.
Baca Juga: Nasehat AM Hendropriyono Setelah Dikukuhkan Sebagai Ketua Dewan Kehormatan DPP ISSITA
Harun Yahya kemudian ditangkap kepolisian Turki dengan tuduhan melakukaan penipuan dan penyesatan ilmiah. Pada 11 Januari tahun 2021, Harun Yahya dijatuhi hukuman penjara 1075 tahun oleh Pengadian Turki.
Bagaimana di Indonesia? Adakah tokoh agama yang kelakuannya mirip Kenneth Copeland dan Harun Yahaya? Jawab sendiri dalam hati!
Prof. Dr. Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, memberikan ciri-ciri “flexing penjual tuhan dan agama” tersebut. Inilah 10 cirinya.
Pertama, mereka menjanjikan kepada pengikutnya, bila menyumbang, akan mendapatkan balasan yang berlipat dari tuhan.
Baca Juga: Tiga Pilar Fikih Haji
Kedua, sang tokoh agama menggunakan pendekatan emosi. Pendekatan ini jos untuk orang-orang yang hidupnya problematis dan menghadapi kesulitan.
Ketiga, menggunakan uang dari “jualan agama dan tuhan” untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kaum fakir miskin.
Keempat, si tokoh sangat konsumtif. Hidup mewah dan suka pamer kekayaan.
Artikel Terkait
Opini: Buya Syafii dan Mbah Moen
Opini: Buya Syakur dan Fikih Gender
Opini: Amicus Curiae dan Megawati
Opini: Enny (Hakim MK). Ketukan Palumu Ditunggu RA Kartini dan Dewi Keadilan
Opini: Pulanglah, Joko Pinurbo
Opini: Pancasila dan Warisan Dunia (Mengenang 2 Tahun Wafatnya Buya Ahmad Syafii Maarif)