Opini: Mencari Tuhan di Ka'bah

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Selasa, 9 Mei 2023 | 17:24 WIB
Kabah - Mekah (Google)
Kabah - Mekah (Google)

Gara-gara kedekatanku dengan Cici, di kamar hotel cowok-cowok pada ngiri. Kok Simon terus yang didekati Cici? Enak deh jadi Simon, kata Ucok, teman sekamarku.

Baca Juga: Klasemen Sementara Medali SEA Games 2023 Kamboja: Sempat Duduki Posisi Kedua, Indonesia Turun ke Peringkat 4

"Hai jangan cemburu bro," kataku pada Ucok. Cici dekat denganku karena diminta adikku. Adikku bestie-nya Cici.

Juga bestie-nya Simon? Kata Wahyu, teman sekamarku ngledek. Aku pun tertawa. Sejak saat itu, hari kedua di Madinah, aku selalu dikaitkan dengan bestienya Cici. Wah!

Dua teman sekamar lain sering ngledek, mana bestie? Bajigur... mereka yang naksir Cici, aku yang dibestie-bestiekan, payah.

Maklumlah cowok, ngliat Cici yang supel, suka bercanda, dan manis... naksir deh!

Baca Juga: Ironis, Platform Profesional dan Pencari Kerja LinkedIn Pangkas 700 Lowongan Kerja Gegara Ini

Cici bilang, Pak Simon harus ikut barisan. Jangan menjauh. Sampai di akhir putaran ke-7, rupanya Cici belum yakin aku sudah berputar 7 kali keliling Ka'bah.

Meski rombongan sudah berada di tepi jalur untuk bersiap-siap melanjutkan Sy'ai, Cici masih menarik baju ihramku untuk memutari Ka'bah lagi.

Ia menganggap putaranku belum sempurna. Aku nurut saja digeret Cici agar terus muter Ka'bah. Batinku, ya sudahlah, kelebihan muterin Ka'bah toh lebih baik dari pada kekurangan.

Saat Sya'i, suasana pun tak kalah gaduh. Suara wirid bersahut-sahutan. Puluhan ribu orang berjalan cepat (di sebuah lorong berlantai putih yang lebih mirip tempat parkir di mall ketimbang tempat sakral) mendaki dan menurun -- bolak balik sepanjang 350 meteran. Suasananya riuh, gemuruh.

Baca Juga: Kuasa Hukum Kirim 8 Bukti Dugaan Pencabulan Mario Dandy terhadap Agnes alias AG, Apa Saja?

Dalam kondisi tersebut, aku berpikir, gimana berdialog atau merasakan kehadiran Tuhan di tempat yang gaduh itu?

Aku nyaris tak bisa memahami -- untuk apa Sya'i? Untuk apa Thawaf? Sekadar napak tilas perjalanan Siti Hajar (Hagar) saat mencari air untuk anaknya Ismail yang kehausan? Atau sebuah cara untuk menemukan Tuhan di tempat kegaduhan? Tak tahu. Sungguh aku tak mengerti.

Di laman Facebook-ku pernah terbaca seorang ulama menceritakan perjalanan Siti Hajar, yang ditinggal Nabi Ibrahim di padang pasir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X