SENAYAN POST - LinkedIn, jaringan media sosial yang berfokus pada profesional mengumumkan akan memangkas 716 lowongan pekerjaan karena permintaan pasar yang goyah.
Selain menutup 716 lowongan pekerjaan, LinkedIn juga akan menutup aplikasi pekerjaan yang berfokus pada China.
LinkedIn yang diketahui memiliki 20.000 karyawan telah meningkatkan pendapatan tiap kuartal selama tahun lalu sebelum menyampaikan pengumuman akan memangkas 716 lowongan pekerjaan.
Baca Juga: Yayasan Rahim Diskusikan Hubungan Indonesia-Israel Pasca Batalnya Piala Dunia U-20
Saat ini, perusahaan yang dimiliki Microsoft Corp itu bergabung dengan perusahaan teknologi besar lainnya dan merumahkan pekerja di tengah prospek ekonomi global yang melemah.
Menurut laporan dari Layoffs.fyi, dalam enam bulan terakhir, lebih dari 270.000 pekerjaan teknologi secara global telah dihentikan.
Sementara itu, LinkedIn menghasilkan uang melalui penjualan iklan dan juga dengan menagih langganan untuk merekrut profesional.
Dalam sebuah surat kepada karyawan, CEO LinkedIn Ryan Roslansky mengatakan langkah untuk memotong peran dalam tim penjualan, operasi, dan dukungannya ditujukan untuk merampingkan operasi perusahaan dan akan menghilangkan lapisan untuk membantu membuat keputusan lebih cepat.
"Dengan pasar dan permintaan pelanggan yang lebih berfluktuasi, dan untuk melayani pasar yang sedang tumbuh dan berkembang secara lebih efektif, kami memperluas penggunaan vendor," tulis Roslansky pada 7 Mei 2023, dikutip SenayanPost.com dari Reuters.
Roslansky juga mengatakan dalam suratnya bahwa perubahan itu akan menciptakan 250 pekerjaan baru.
Seorang juru bicara LinkedIn mengatakan bahwa karyawan yang terkena dampak pemotongan akan memenuhi syarat untuk melamar peran tersebut.
LinkedIn juga mengatakan akan menghapus aplikasi pekerjaan ramping yang ditawarkannya di China setelah memutuskan pada tahun 2021 untuk sebagian besar menarik diri dari negara itu, dengan alasan lingkungan yang 'menantang'.
Artikel Terkait
Menlu Yordan Tegaskan Keanggotaan Suriah di Liga Arab Kembali Pulih
Momen Penting di Hari Penobatan Raja Charles III, Salah Satunya Mematahkan Tradisi Kerajaan
Hanya 28 Jam di Inggris, Pangeran Harry 'Buru-buru' ke Bandara Heathrow di Tengah Penobatan Raja Charles III
Realis John Mearsheimer Sebut China Diuntungkan dalam Perang Rusia Ukraina, Kenapa?
Yayasan Rahim Diskusikan Hubungan Indonesia-Israel Pasca Batalnya Piala Dunia U-20