Aku bertanya, kok teganya Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dengan bayi kecil Ismail di tengah gurun? Tak ada jawaban dari sang ulama.
Jika saja sang ulama menjawab, itu adalah ujian Allah, aku mungkin bisa menerimanya dengan terpaksa. Karena aku harus percaya.Tidak percaya sama saja tidak beriman. Merinding bulu kudukku dikatakan sebagai orang tidak beriman. Neraka ancamannya.
Gegara dicap orang tak beriman atau kafir, istriku bisa kabur dari rumah. Padahal mencari istri cantik, setia, muda, dan saleha -- tidak gampang di era sosmed.
Sedikit tak puas pada suaminya, wanita zaman now langsung curhat di Tiktok. Dan viral. Suami pun jadi malu. Seperti Aribowo yang rahasia meditnya ditiktokan istrinya, Inge.
Aku bukan Hamid Basyaib, penulis cerdas, yang menertawakan ritual haji dan umrah. Aku juga bukan seorang Marxism yang menganggap agama adalah candu yang meninabobokan manusia dari realitas kehidupan. I'am is me.
Faktanya aku mengikuti perjalanan umrah yang gaduh di Mekah. Terus terang, aku sulit mencari inspirasi dan kedalaman spiritual di suasana yang gaduh seperti saat Thawaf dan Sya'i.
Mungkin imanku terlalu dangkal. Teman satu grupku, pedagang kain dari Bukit Tinggi, mengaku hatinya lebih damai dan tenang setelah melaksanakan Thawaf dan Sya'i.
Aku ternyata belum damai, malah mimpi ketemu mantan yang pamer aurat. Padahal aku tidur di Tanah Suci. Kacau! Dangkalnya imanku.
Nabi Muhammad saat menerima wahyu di Gua Hira, dalam suasana sepi dan hening. Dalam suasana sepi itulah, suara Tuhan terdengar. Malaikat Jibril datang, menyampaikan wahyu pertama dalam suasana hening dan sepi. Bukan suasana ramai seperti di pertunjukan teater atau musik.
Baca Juga: Jadwal Rilis Resmi Manga One Piece Chapter 1083, Lengkap dengan Spoiler!
Tak mungkinlah malaikat Jibril datang membawa wahyu kepada seseorang jika ia sedang nonton drakor. Keheningan adalah suasana raison d'etre untuk setiap hati manusia menerima kehadiran Tuhan. Lalu, untuk apa Thawaf dan Sya'i bila dibarengi dengan kegaduhan? Itulah bisikan batinku yang kotor. Aku sedih, jauh-jauh ke Mekah, ternyata hatiku belum siap menerima prosesi ritual Thowaf dan Umrah yang ramai dan gaduh itu.
Dalam kedangkalan iman, aku hanya bisa berdoa. Tuhan, maafkan hamba, bila dalam Thawaf dan Sya'i di depan RumahMU, aku tak bisa merasakan keheningan dan limpahan rahmat spiritual yang memuaskan dahaga imanku.
Kegaduhan zikir dan keramaian manusia dengan segala tingkah polahnya di sekitar Ka'bah saat Thawaf, serta kegaduhan manusia saat Sya'i di lorong putih, sungguh membuat hatiku makin tidak mengerti -- kenapa Engkau menyuruh umat Islam untuk melakukan dua ritual yang menyusahkan itu?
Artikel Terkait
Presiden Jokowi Dicap Anti-Islam Usai Larang Buka Puasa Bersama, Menag Yaqut Justru Bilang Begini
Malam Takbiran Idul Fitri Suami Istri Berhubungan Intim, Simak Hukumnya dalam Islam
Opini: Ida Dayak dan Cinta Tuhan
Malam Lailatul Qadar Penting Bagi Umat Islam di Bulan Ramadhan, Ternyata Ini Alasannya
Pembalap Beragama Islam Ini Terang-Terangan Ingin Balapan di MotoGP
Biar Tak Beda Tanggal, Muhammadiyah Ingin Kalender Islam Global Segera Terwujud