Nabi Muhammad lebih menyukai orang yang telapak tangannya kasar, karena bekerja keras dari pada orang yang hanya duduk berdoa saja.
Baca Juga: Lirik Lagu NEW EMOTIONS, INFINITE Setelah 5 Tahun Vakum, Dinantikan Banget sama Penggemar
Melihat kondisi saat ini, di mana kemiskinan menyeruak di mana-mana, maka amalan terbaik adalah memberi pekerjaan. Jangan berpikir memberi pekerjaan kepada orang miskin adalah memberi sesuatu dengan modal besar.
Banyak pekerjaan sederhana yang bisa ditangani orang miskin dengan modal kecil. Seperti pedagang kaki lima, angkringan, petani sayur-sayuran (timun, kangkung, tomat, buncis, selada, oyong, dan pare).
Menanam sayur-sayuran semacam itu sudah bisa panen dalam 30 atau 45 hari saja. Dan keuntungannya cukup besar. Begitu pula dengan ternak unggas dan ikan lele. Modalnya kecil dan cepat panen.
Dari perspektif etika keagamaan, memberi pekerjaan sebagai sedekah adalah kemuliaan. Memberi sedekah pekerjaan lebih baik daripada memberi sedekah uang.
Baca Juga: Pinkan Mambo Mau Nikah Lagi, Pilih Pria yang Dicintai dan Terima Anak-anaknya
Bahkan memberi sedekah dalam bentuk merintis usaha baru atau bisnis kecil, bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya tidak akan habis selama wong cilik tersebut survive dan terlepas dari kemiskinannya.
Dengan demikian, membangun bisnis kecil untuk wong cilik yang sengsara akan berdampak sangat besar dalam mengurangi kemiskinan.
Dari wacana inilah, kita perlu memupuk semangat dalam membuka usaha atau bisnis baru untuk mentransformasi sedekah.
Berapa pun usia seseorang, sepanjang masih diberi kekuatan untuk tetap produktif, bantulah dengan memberi pekerjaan atau mendirikan usaha baru. Ini karena, membuka usaha baru adalah membuka peluang pekerjaan.
Itulah sebabnya negara, organisasi sosial dan agama (di Indonesia khususnya dan dunia umumnya), perlu mengampanyekan sekaligus menerapkan konsep sedekah pekerjaan atau usaha baru ketimbang sedekah uang.
Sedekah pekerjaan akan membuat penerima sedekah menjadi orang mandiri dan punya harga diri. Dia punya peran untuk membangun dunia dan menyejahterakan manusia, sekecil apa pun.***
Artikel Terkait
Opini: Ekonomi Haji Pascapandemi dan Uang Jokowi
Opini: Idul Adha, Mari Kurbankan Ismail Kita
Opini: Salat Subuh
Opini: Hijrah dan HAM
Opini: Majlis Taklim Al-Busyro "Membunuh" Wahyu
Opini: Keikhlasan Rasulullah dan Perempuan Yahudi Tua