Membicarakan kebaikan diri sendiri akan dapat menghilangkan rasa ikhlas yang bisa menggerus makna kebaikan itu sendiri. Kalau orang lain membicarakan kebaikannya, biarkanlah apa yang dikatakannya sesuai pengalaman yang dialaminya.
Adalah menjadi hak orang itu untuk mengatakan pengalaman hidupnya. Kebaikan itu terang, dan akan menerangi kehidupan, dikatakan atau tidak.
Rasulullah menyatakan, jika tangan kananmu berbuat baik, hendaklah tangan kirimu tidak mengetahuinya. Hadist ini menjelaskan, betapa seseorang tidak boleh memamerkan perbuatan baik kepada seseorang. Biarlah Allah yang mengetahuinya.
Itulah kondisi ikhlas. Orang yang melakukannya adalah mukhlis. Allah sangat menghormati orang-orang mukhlis karena apa yang dilakukannya semata karena Allah.
Secara psikologis, orang yang ikhlas hatinya akan damai. Kedamaian akan membuat dirinya bahagia. Orang yang ikhlas tidak kemrungsung. Sabar. Ia tidak bersandar kepada penilaian manusia. Tujuan tertinggi hidupnya adalah mendapat ridha Allah.
Itulah yang dilakukan Rasulullah, teladan manusia. Kisah Hindun menjadi contoh, betapa luar biasanya keikhlasan Rasulullah dalam berbuat baik. Keikhlasan dan kesabaran yang dilakukan Rasulullah membuat orang yang mencacinya jatuh cinta kepada Muhammad SAW.
Itulah sebabnya setiap hari Allah mengingatkan umat Islam, agar menjaga keikhlasan dalam mengarungi kehidupan.
Umat Islam mengucapkan janji untuk menjaga keikhlasan lima kali dalam sehari. Di setiap salat lima waktu dalam bacaan iftitah. Doa iftitah dibaca sesudah takbir untuk mengawali salat. Itu artinya keikhlasan nilainya tinggi sekali di hadapan Allah.
Allah berfirman: Katakanlah, “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-An’aam: 162).***
Artikel Terkait
Ustaz Nuzul Dzikri: Kiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Dapatkan Malam Lailatul Qadar
Islam Politik dan Mempermainkan Agama
Opini: In Memoriam KH Zamroni Irfan, Santri Modern yang Liberal
Cerpen: Cinta Suci Adi
Opini: Salat Subuh
Opini: Hijrah dan HAM
Opini: Majlis Taklim Al-Busyro "Membunuh" Wahyu