Baca Juga: Hasil Persikabo 1973 vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Dibuat Frustasi Laskar Pajajaran
"Tidak sayang. Aku sudah lama punya bitcoin ini. Dulu, dua bitcoin itu aku beli hanya Rp200.000. Kalau sekarang harga dua bitcoin itu Rp1,6 miliar, itu rejekimu dan rejeki anakmu," kata Adi lembut.
Vani pun kembali menangis. Betapa beruntungnya dia dinikahkan dengan Adi. Adi menerimanya meski Vani sudah berbadan dua akibat diperkosa. Benar cinta Tuhan tak terbatas dan tak pilih kasih, batin Vani.
Sungguh, betapa mulianya hati Adi. Pikir Vani. Adi adalah pria ideal yang nyaris tak ada duanya.
Mas Adi, agama Kangmas itu apa. Kok baik sekali?
Baca Juga: 500 Hari Lebih Perang Rusia Ukraina, PBB Catat 9.000 Warga Sipil Tewas, 500 di Antaranya Anak-anak
"Vani, agamaku adalah cinta. Setiap hati adalah rumah suciku. Kini hatimu adalah rumah suciku," ujarnya.
Vani menangis tergugu. Air matanya meleleh mendengar kata-kata Adi.
"Mas Adi, sungguh aku seperti terbang ke langit rahasia. Untuk mencapai cinta sejati darimu," ujar Vani sambil berurai air mata.
Sambil mencium rambut Vani, Adi pun berkata dengan lembut.
Baca Juga: Penjelasan Post Credit Scene Insidious: The Red Door, Awas Spoiler!
"Vani, mari kita pelihara cinta itu. Biarkan cinta bertakhta menjadi raja di hati kita," ujar Adi menutup malam itu dengan indah.***
Artikel Terkait
Opini: Ekonomi Haji Pascapandemi dan Uang Jokowi
Opini: Idul Adha, Mari Kurbankan Ismail Kita
Makna Kalimat "Hasbunallah Wanikmal Wakil" dan Waktu Terbaik Mengucapkannya
Islam Politik dan Mempermainkan Agama
Opini: In Memoriam KH Zamroni Irfan, Santri Modern yang Liberal