Meskipun ada beberapa ilmuwan yang skeptis terhadap perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, beberapa sudah disebut di atas, pandangan mereka sering dikritik dan tidak didukung oleh data yang luas dan komprehensif.
Baca Juga: Israel Penjajah Caplok Lagi Tepi Barat Palestina, Terbesar dalam 30 Tahun Terakhir
Konsensus ilmiah yang luas menunjukkan bahwa, perubahan iklim adalah nyata dan sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, dan pandangan ini didukung oleh berbagai bukti dari berbagai disiplin ilmu.
Biasanya kritik terhadap para skeptis, disebabkan: selektivitas data, artinya mereka dikritik karena selektif dalam memilih data yang mendukung pandangan mereka, sambil mengabaikan data yang lebih luas dan lebih komprehensif yang menunjukkan bukti kuat pemanasan global.
Atau adanya konflik kepentingan, karena memiliki hubungan finansial atau profesional dengan industri bahan bakar fosil, yang menimbulkan pertanyaan tentang bias dalam pandangan mereka.
Atau penolakan terhadap konsensus ilmiah, konsensus ilmiah tentang perubahan iklim sangat kuat, dengan mayoritas besar ilmuwan setuju bahwa aktivitas manusia adalah penyebab utama pemanasan global.
Baca Juga: Hamas Ajukan Usulan Baru Terkait Gencatan Senjata di Gaza pada Tiga Mediator
Para ahli yang skeptis, sering dituduh mengabaikan konsensus ini tanpa bukti yang cukup kuat, untuk mendukung pandangan alternatif mereka.
Ulil menggunakan pandangan skeptis ini, untuk mendukung pentingnya apa yang ia sebut “reasonable environmentalism”.
Dalam istilah saya yang sederhana, Ulil menganggap isu lingkungan sebagai isu yang tidak urgen, tidak “alarmis” tapi bisa diselesaikan dengan pengelolaan lingkungan, yang masuk akal dan bisa dipecahkan dengan teknologi baru.
Dalam pandangan saya Ulil menunda-nunda pemecahan masalah yang perlu segera. Ini sangat berbahaya karena kita tidak punya cukup waktu untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Baca Juga: Menkominfo Budi Arie Didesak Mundur Gegara Kasus Bobolnya PDNS, Ini Kata Jokowi
Dan kita sudah tidak bisa lagi, kembali ke keadaan alami yang harmonis seperti sebelum revolusi industri.
Ramalan bumi seperti apa pada tahun 2050, atau 2100 sudah sering kita dengar dan baca.
Dalam pandangan saya pandangan fikih yang istilah Ulil, “husnu dzann” (berpikir positif).
Artikel Terkait
Melchor Group Kelola Usaha untuk Pencegahan Perubahan Iklim
Opini: KTT Iklim Dubai Mencari Solusi dengan Kolaborasi, Bagaimana Indonesia?
Opini: Buya Syakur dan Fikih Gender
Tiga Pilar Fikih Haji