Opini: KTT Iklim Dubai Mencari Solusi dengan Kolaborasi, Bagaimana Indonesia?

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Jumat, 8 Desember 2023 | 15:39 WIB
Wisnu Salman (Senayan Post)
Wisnu Salman (Senayan Post)

Oleh: Ir. Wisnu Salman, Alumnus ITB/Konsultan Pertambangan/CEO Geo PT Mining Berkah

SENAYANPOST - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim di Dubai, 1-12 Desember 2023, penuh keprihatinan.

Betapa tidak! KTT yang dihadiri 198 negara ini, diselenggarakan dengan latar belakang bencana global yang mengerikan.

Banjir dan badai laut yang makin dahsyat, gelombang panas yang kian memanggang bumi, musim panas yang sangat menyengat, dan kebakaran hutan yang kian massif di seluruh dunia.

Greta Thunberg, aktivis lingkungan asal Swedia yang pernah menggemparkan dunia (karena aksinya menyerukan "mogok sekolah" tahun 2018 di Eropa dan Amerika, untuk mengingatkan pimpinan dunia agar peduli terhadap kerusakan bumi yang kian parah) menuduh KTT Iklim atau Conference of The Parties/COP 28 Dubai hanya sekadar "greenwashing".

Baca Juga: Polisi Pidie Selidiki Kasus Penyelundupan Etnis Rohingya, Pelaku Raup Untung hingga Rp3,3 Miliar

Yaitu mempromosikan keberpihakan mereka tanpa membuat perubahan yang berarti, untuk menyelamatkan bumi.

Padahal menurut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), saat ini apa yang terjadi di bumi (akibat kadar tinggi gas rumah kaca di atmosfir) sudah bukan lagi "global warming" -- tapi "global boiling."

UNEP (United Nationd Environment Program, PBB) melaporkan bahwa gas rumah kaca di atmosfer mencapai rekor tertinggi pada tahun 2022.

Berdasarkan kondisi tersebut, UNEP meragukan KTT Iklim Dubai mampu merumuskan penurunan emisi karbon sesuai kesepakatan dunia.

Baca Juga: Jamu Sehat Indonesia Masuk Warisan Budaya Takbenda di UNESCO

UNEP menegaskan emisi karbon global pada tahun 2030, hanya akan berkurang dua persen dibandingkan dengan tingkat emisi pada tahun 2019.

Ini jauh dari penurunan sebesar 43 persen, yang diperlukan untuk membatasi pemanasan bumi hingga maksimal 1,5 derajat Celcius sejak zaman pra-industri.

Penurunan karbon 43 persen dari kondisi tahun 2019 tersebut, adalah upaya minimal untuk mencegah kenaikan suhu bumi 1,5 derajat Selsius dari era sebelum revolusi industri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X