Opini: Idul Fitri dalam Perspektif Ekonomi dan Keadilan Sosial

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Sabtu, 22 April 2023 | 14:11 WIB
Ilustrasi Idul Fitri saling bermaaf-maafan. (Sumber: canva/Odua Images)
Ilustrasi Idul Fitri saling bermaaf-maafan. (Sumber: canva/Odua Images)

Bahkan ia sengaja menjadi tameng Muhammad dari sabetan pedang musuh. Mukhairiq, karena luka parah akhirnya meninggal.

Baca Juga: Mal Senayan City Kembali Dibuka Usai Insiden Kebakaran di Salah Satu Restoran

Sebelum wafat, ia berpesan kepada Nabi, agar hartanya dipakai untuk kepentingan Chiefdom.

Karena harta Mukhairiq sangat banyak, Muhammad memutuskan membangun Baitul Mal di masjid Nabawi. Dari sinilah Baitul Mal pertama umat Islam berdiri. Modalnya dari umat Yahudi tadi.

Kelak Baitul Mal ini menjadi "Center of Welfare Economics" umat Islam. Baitul Mal menampung sadaqah, infak, zakat, hibah, dan lain-lain, kemudian harta yang terkumpul dipakai untuk kesejahteraan ekonomi umat.

Pada tahap inilah, ujar Guru Gembul di podcastnya, Muhammad memperkenalkan Islam secara elegan.

Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H Beda dengan Muhammadiyah, Kemenag Himbau Hal Ini

Menyejahterakan orang miskin, menghormati semua manusia, dan mendistribusikan ekonomi secara adil. Dari situlah Islam didakwakan. Umat pun suka cita mengikutinya.

Ekonomi profetik -- pinjam istilah EF Schumacher penulis buku monumental Small is Beautiful -- sebetulnya sederhana.

Ekonomi adalah distribusi harta dan upaya-upaya mendapatkannya dengan konsep sederhana. Ekonomi berhasil ketika kehidupan manusia tercukupi secara nutrisi, secara alami, dan secara manusiawi. Itulah prinsip ekonomi Fitri.

Sayangnya, seiring perkembangan teknologi dan ambisi manusia, ekonomi Fitri porak poranda. Politik dan kekuasaan yang ambisius merontokkan semua bangunan kemanusiaan yang diinisiasi Nabi.

Baca Juga: Musim Mudik Lebaran Jalan Tol di Malaysia Gratis untuk Para Pemudik, Pengamat Bilang Begini

Kalimat Tauhid sebagai deklarasi kesatuan dan persatuan umat -- kata Buya Syakur Yasin di kanal tivi Wamimma -- kini telah didegradasi menjadi sekelumit kata "dua syahadatain" yang eksklusif, nyaris tanpa perspektif (Ketuhanan dan Kerasulan Muhammad untuk memperbaiki akhlak manusia).

Dampaknya, manusia tak hanya serakah terhadap harta dan kuasa. Tapi juga serakah terhadap agama dan ibadah.

Salah satu contoh paling ril di tengah umat Islam Indonesia, muslim yang kaya menunaikan ibadah haji dan umrah berkali-kali dengan biaya mahal. Padahal di sekitar rumahnya masih banyak orang miskin yang membutuhkan pertolongan ekonomi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X