II. KEGELISAHAN SALDI ISRA DAN SUHARTOYO
Kegelisahan tentang independensi hakim bukan sesuatu yang lahir dari ruang kosong.
Saldi Isra dan Suhartoyo berkali-kali menyinggung pentingnya kemerdekaan hakim dari intervensi kekuasaan.
Kegelisahan itu sangat masuk akal.
Bagaimana mungkin seorang hakim dapat sepenuhnya bebas apabila ada lembaga di luar pengadilan yang secara politik dapat menentukan keberlangsungan jabatannya?
Bagaimana mungkin hakim benar-benar merdeka apabila setiap putusan berpotensi menimbulkan risiko politik terhadap dirinya sendiri?
Dan di sinilah ironi besar negara hukum modern muncul.
Selama ini kritik keras justru diarahkan kepada hakim militer.
Mereka dianggap tidak independen karena berasal dari institusi bersenjata, memiliki pangkat, hidup dalam struktur komando, dan memakai seragam.
Tetapi pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur adalah:
apakah hakim sipil benar-benar lebih bebas daripada hakim militer?
III. PARADOKS BESAR NEGARA HUKUM INDONESIA
Selama bertahun-tahun publik diajarkan untuk percaya bahwa seragam militer identik dengan ketidakbebasan.
Namun realitas justru memperlihatkan sesuatu yang sangat ironis.
Hakim militer hari ini berada dalam sistem One Roof System di bawah Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Pembinaan yudisial, administrasi, promosi, dan mutasi dilakukan melalui mekanisme Mahkamah Agung.