MENCARI INDEPENDENSI ABSOLUT DI BALIK TOGA DAN SERAGAM MILITER; Sebuah Satire Konstitusional tentang Hakim, Politik, dan Ketakutan Kehilangan Jabatan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB
Soleman B. Ponto
Soleman B. Ponto

VII. ROMANTISME PALSU TENTANG HAKIM SIPIL

Ada romantisme berlebihan dalam cara berpikir hukum Indonesia:
seolah-olah selama seseorang memakai toga sipil, maka ia otomatis netral dan bebas.

Padahal sejarah dunia menunjukkan bahwa intervensi terhadap peradilan paling sering terjadi melalui mekanisme politik sipil.

Tirani modern tidak selalu datang dengan tank.

Kadang ia datang melalui rapat fraksi.

Kadang melalui mekanisme evaluasi.

Kadang melalui ancaman administratif.

Kadang melalui tekanan politik yang dibungkus bahasa konstitusional.

Dan semuanya dilakukan atas nama demokrasi.

Inilah ironi negara hukum modern:

semakin politis proses pengangkatan hakim, semakin besar kemungkinan independensi hakim berubah menjadi ilusi.

 

VIII. YANG HARUS DIPUTUS BUKAN SERAGAMNYA, TETAPI TALI PUSAR POLITIKNYA

Bangsa ini harus mulai jujur kepada dirinya sendiri.

Masalah utama bukan sipil atau militer.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X