MENCARI INDEPENDENSI ABSOLUT DI BALIK TOGA DAN SERAGAM MILITER; Sebuah Satire Konstitusional tentang Hakim, Politik, dan Ketakutan Kehilangan Jabatan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB
Soleman B. Ponto
Soleman B. Ponto

Mengapa?

Karena fakta menunjukkan:

belum pernah terjadi Panglima TNI menarik hakim hanya karena tidak menyukai putusannya.

Tidak ada tradisi “recall” ala politik parlementer.

Tidak ada ancaman pergantian karena perubahan arah kepentingan partai.

Tidak ada tekanan elektoral.

Tidak ada hutang budi kepada fraksi politik.

Prajurit tidak lahir dari transaksi pemilu.

Prajurit tidak hidup dari kompromi partai.

Dan prajurit tidak bergantung pada tepuk tangan politik untuk mempertahankan kehormatannya.

Tentu saja ini adalah satire.

Ini bukan ajakan mengganti demokrasi dengan militerisme.

Ini justru sindiran keras terhadap kemunafikan sistem politik kita sendiri.

Kita terlalu sering menuduh seragam sebagai ancaman kebebasan,
tetapi lupa bahwa kebebasan hakim paling sering runtuh bukan karena sepatu lars,
melainkan karena tekanan kekuasaan politik yang memakai jas dan dasi.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X