MENCARI INDEPENDENSI ABSOLUT DI BALIK TOGA DAN SERAGAM MILITER; Sebuah Satire Konstitusional tentang Hakim, Politik, dan Ketakutan Kehilangan Jabatan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Rabu, 13 Mei 2026 | 10:07 WIB
Soleman B. Ponto
Soleman B. Ponto

Secara kelembagaan, mereka berada dalam struktur yudisial yang jelas.

Sebaliknya, hakim yang lahir dari mekanisme politik sering kali membawa beban psikologis yang jauh lebih berat: 
beban utang politik,
beban kompromi,
dan beban relasi dengan kekuatan pengusul.

Hakim militer mungkin memiliki rantai komando.

Tetapi politik memiliki rantai kepentingan.

Dan rantai kepentingan jauh lebih berbahaya karena bekerja diam-diam, tidak tertulis, dan sering kali tidak terlihat.

 

IV. POLITIK ADALAH INTERVENSI PALING HALUS DAN PALING MEMATIKAN

Intervensi militer selalu ditakuti karena terlihat jelas.

Tetapi intervensi politik jauh lebih berbahaya justru karena ia bekerja secara halus.

Politik tidak perlu memerintah secara langsung.

Politik cukup menciptakan rasa takut.

Takut kehilangan jabatan.
Takut tidak diperpanjang.
Takut dikucilkan.
Takut dihukum karena terlalu berani.

Dan sejak rasa takut itu masuk ke ruang batin hakim, maka independensi mulai mati perlahan.

Inilah yang sering tidak disadari.

Ancaman terbesar terhadap kebebasan hakim modern bukan lagi tekanan fisik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X