Masalah utamanya adalah:
apakah seorang hakim dapat kehilangan jabatannya karena keberanian putusannya?
Jika jawabannya masih “ya”, maka independensi absolut belum pernah benar-benar ada.
Dan selama hakim masih memiliki rasa takut terhadap lembaga pengusul,
selama jabatan hakim masih bisa dipakai sebagai alat tekanan,
maka kemerdekaan kekuasaan kehakiman belum sepenuhnya lahir.
Karena itu, yang harus diputus bukan hubungan hakim dengan latar belakang institusinya.
Yang harus diputus adalah:
tali pusar politik antara hakim dan lembaga pengusulnya.
IX. EPILOG: TOGA, SERAGAM, DAN KEBERANIAN MELAWAN KEKUASAAN
Pada akhirnya, independensi hakim tidak ditentukan oleh pakaian yang dikenakan.
Bukan oleh toga.
Bukan oleh jas sipil.
Dan bukan pula oleh seragam militer.
Independensi ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana:
apakah seorang hakim dapat berkata “tidak” kepada kekuasaan tanpa takut kehilangan jabatannya?