Danton mendekat. Menatap keduanya.
Bukan lagi tatapan instruktur, tapi tatapan orang yang sadar sedang berhadapan dengan dua kancil Madura.
Ia bertanya pelan, tapi tajam:
> “Pak Muzanni, Pak Waris… besok siapa yang mau sakit?”
Satu peleton menahan napas.
Muzanni dan Waris saling pandang.
Pandangan singkat.
Dalam.
Penuh mufakat.
Lalu dengan kompak mereka menjawab:
> “Siap, Ndan. Tergantung Ndan.Nanti kami musyawarahkan.”
Lapangan pecah.
Tawa meledak.
Bukan karena PBB bubar.
Tapi karena akal Madura memang tak pernah kehabisan jalan.
---
If‘al wa Lā Ḥaraj
Konon di zaman Nabi ﷺ, para sahabat berbeda-beda urutan manasik haji.
Ada yang lempar jumrah dulu.
Ada yang sa’i dulu.
Ada yang tahallul dulu.
Dan Nabi menjawab: