Rikal Dikri
Peserta PPIH Angkatan Pertama Kementerian Haji dan Umrah RI
Dua puluh hari hampir usai, tinggal menunggu hitungan jam. Namun barak Petugas Haji ini memberi saya lebih dari sekadar jadwal dan aba-aba. Ia memberi pelajaran hidup—terutama tentang manusia. Tentang perjumpaan lintas daerah, lintas watak, dan lintas cara bertahan hidup serta bersiasat. Dan, mendapatkan sahabat baru.
Barak memang disiplin. Jam bangun diatur, langkah diseragamkan, bahkan cara berdiri pun ada ilmunya. Tapi justru di ruang serba teratur itulah manusia tampil apa adanya. Tanpa topeng jabatan. Tanpa panggung akademik. Hanya akal, badan, dan niat bertahan.
Dan dari sekian banyak kisah, dua orang Madura ini rasanya paling layak dikenang. Satu kompi, satu peleton dengan saya. Mereka adalah Muzanni dan Abdul Waris.
Sebetulnya cerita lucu di barak ini berlimpah. Tapi dua orang ini istimewa. Seperti kata Gus Dur, orang Madura adalah entitas manusia yang cerdik—tak pernah kehabisan akal. Dan Muzanni serta Waris adalah bukti empirisnya. Versi barak PPIH.
---
Hari Pertama: Semua Sehat, Semua Bahagia
Hari kedua di barak, kompi kami dibagi ke beberapa peleton. Peleton inilah yang akan digembleng PBB selama satu minggu penuh.
Hari pertama PBB, semua hadir lengkap. Muzanni dan Waris berdiri rapi, sehat wal afiat, tegap seperti baru lulus seleksi.
Tak ada tanda-tanda aneh.
Belum.
---