Kerawanan Selat Malaka dan Kontingensi Konflik Asimetris di Kawasan

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 24 April 2026 | 11:54 WIB
Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio
Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio

Laksamana TNI (Purn) Prof Dr Marsetio

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut TNI 

Guru Besar Universitas Pertahanan Republik Indonesia

 

Selat Malaka, seperti juga Selat Hormuz, merupakan selat strategis yang apabila mengalami kontingensi konflik asimetris di Laut China Selatan akan menyebabkan kerumitan di bidang ekonomi di sejumlah negara. Pasalnya, selat tersibuk di dunia itu mengangkut 23,3 juta barrel minyak per hari yang dibawa oleh kapal-kapal tanker dari berbagai negara.
Pada 2024 terdapat 19.507 tanker curah dan 9.724 tanker raksasa (Very Large Crude Carier/CLCC) melintas di Selat Malaka. Selat itu merupakan urat nadi perekonomian dunia. Sekitar 25-30 persen perdagangan maritim diangkut melalui selat tersebut: 80 persen di antaranya merupakan impor minyak mentah China.

Negara-negara industri di Asia Timur sangat tergantung pada Selat Malaka sehingga tidak berlebihan bila disebut Selat Malaka besar kontribusinya bagi perekonomian global.

Selat Malaka yang memisahkan Semenanjung Malaya dengan Pulau Sumatera memiliki panjang sekitar 930 km dengan titik tersempit 38 km (24 mil) di Selat Philip (Singapura), dan titik terlebar 250 km di ujung barat laut Pulau We, Sabang.

Di titik tersempit itulah berbagai masalah bisa timbul baik karena konflik bersenjata, blokade maupun karena adanya kecelakaan kapal.

Setiap tahun, Selat Malaka dilayari 75.000 kapal berbagai jenis, artinya setiap hari melintas ribuan kapal di sana. Apabila selat itu mengalami kontigensi, maka kapal-kapal tersebut tidak dapat melintas, sehingga suplai barang terganggu. Akibatnya, akan terjadinya krisis sebagaimana pernah terjadi di Terusan Suez tahun 2021.

Terusan Suez, ketika itu lumpuh seminggu setelah kapal kontainer sepanjang 400 meter, MV Ever Given, kandas menyilang sehingga badan kapal raksasa itu menutup alur pelayaran. Akibatnya, kapal-kapal lainnya tidak bisa lewat, menyebabkan arus distribusi logistik dari Asia ke Eropa dan sebaliknya terganggu.

Peristiwa lumpuhnya Terusan Suez murni karena kecelakaan, bukan karena peperangan asimetris. Kondisinya tentu lebih serius bila penutupan terusan itu karena adanya perang, sebagaimana dilakukan Iran yang memblokade Selat Hormuz pada perang Iran-AS-Israel.

 

Konflik Laut China Selatan
Kontingensi di Selat Malaka bisa terjadi apabila potensi konflik di Laut China Selatan (LCS) maupun di Selat Taiwan tidak terkendali dan berubah menjadi perang terbatas maupun perang terbuka antara negara-negara di kawasan itu. Sebagaimana diketahui di LCS terdapat klaim tumpang tindih yang melibatkan China, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

China secara sepihak menyatakan 90 persen perairan di LCS sebagai miliknya meskipun mendapat sanggahan dari negara-negara klaiman lainnya. China bahkan tidak mengakui keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional yang menyatakan China tidak punya dasar untuk menyatakan LCS sebagai wilayah kedaulatannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X