Artinya, yang bertarung bukan mazhabnya, tetapi para penjual konflik.
Penutup
Dari fenomena represi mikro ini, kita belajar sesuatu yang pahit tetapi penting.
Dalam ekosistem digital yang hidup dari konflik, suara damai adalah ancaman paling mematikan.
Yang dihapus bukan hanya komentar, tapi kemungkinan dialog.
Yang dibungkam bukan hanya satu orang, tapi kesempatan umat untuk dewasa.
Namun, kebenaran punya cara lain untuk hidup, ia bergerak, berpindah ruang, dan muncul kembali dalam bentuk yang lebih matang.
Kebencian mungkin bisa menghapus teks, tapi tidak bisa menghapus kesadaran.
Karena pada akhirnya, manusia tetap punya intuisi untuk membedakan, mana wacana yang memperluas hati, dan mana yang sekadar menjaga bara kebencian agar tetap menyala.***
Artikel Terkait
SOEHARTO DI ANTARA KONTRIBUSI DAN KONTROVERSI
'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial
MENCARI ILMU: DARI KERTAS SAKU KE KECERDASAN BUATAN
Mukadimah Minhajul Arifin Imam Al Ghazali
Petunjuk Jalan Kaum Bijak (Minhajul Arifin Imam Al Ghazali)