'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Sabtu, 15 November 2025 | 16:03 WIB
Ilustrasi, menilik fenomena media sosial di Indonesia di mana influencer yang pernah ke Suriah dianggap sebagai otoritas geopolitik Timur Tengah. (Unsplash.com/Mahmoud Sulaiman)
Ilustrasi, menilik fenomena media sosial di Indonesia di mana influencer yang pernah ke Suriah dianggap sebagai otoritas geopolitik Timur Tengah. (Unsplash.com/Mahmoud Sulaiman)

SENAYANPOST - Dalam beberapa tahun terakhir, muncul satu pola menarik di media sosial Indonesia: ada sebagian influencer yang pernah ke Suriah, dan kemudian dianggap sebagai otoritas mutlak soal geopolitik Timur Tengah.

Klaimnya sederhana: "Saya pernah ke Suriah. Berarti saya yang paling paham Suriah."

Narasi ini terdengar impresif, tapi kalau dibedah pelan-pelan, sebenarnya hanya produk bias psikologis, bukan pengetahuan politik.

Artikel ini akan mengurai fenomena tersebut, bagaimana 'pernah ke Suriah' berubah menjadi stempel otoritas palsu dan bagaimana publik akhirnya kehilangan daya kritis.

1. Prestis Visual

Ketika foto lapangan memberi ilusi kompetensi.

Influencer yang pulang dari Suriah biasanya membawa: foto puing, foto relawan, video konvoi, selfie dengan latar Idlib atau Aleppo.

Visual yang dramatis itu membuat publik langsung berkata: "Dia jelas paling tahu. Dia saksi!"

Padahal foto hanya membuktikan kehadiran, bukan keahlian.

Paspor bukan kurikulum. Kamera bukan metodologi. Perjalanan bukan analisis.

Baca Juga: Utusan Khusus AS untuk Suriah: Damaskus Bakal Bantu Kami Hadapi dan Bongkar Sisa-sisa ISIS, IRGC, Hamas, dan Hizbullah

2. Lapangan konflik selalu dikurasi, yang ditunjukkan bukan seluruh realitas

Ini bagian yang jarang diketahui publik.

Di Suriah, siapa pun yang masuk: akan diarahkan rutenya, dibatasi wilayah yang boleh diakses, ditunjukkan warga yang aman untuk ditemui, dijauhkan dari lokasi sensitif, dan diberi narasi oleh pihak yang mengundang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X