SENAYANPOST - Dalam beberapa tahun terakhir, muncul satu pola menarik di media sosial Indonesia: ada sebagian influencer yang pernah ke Suriah, dan kemudian dianggap sebagai otoritas mutlak soal geopolitik Timur Tengah.
Klaimnya sederhana: "Saya pernah ke Suriah. Berarti saya yang paling paham Suriah."
Narasi ini terdengar impresif, tapi kalau dibedah pelan-pelan, sebenarnya hanya produk bias psikologis, bukan pengetahuan politik.
Artikel ini akan mengurai fenomena tersebut, bagaimana 'pernah ke Suriah' berubah menjadi stempel otoritas palsu dan bagaimana publik akhirnya kehilangan daya kritis.
1. Prestis Visual
Ketika foto lapangan memberi ilusi kompetensi.
Influencer yang pulang dari Suriah biasanya membawa: foto puing, foto relawan, video konvoi, selfie dengan latar Idlib atau Aleppo.
Visual yang dramatis itu membuat publik langsung berkata: "Dia jelas paling tahu. Dia saksi!"
Padahal foto hanya membuktikan kehadiran, bukan keahlian.
Paspor bukan kurikulum. Kamera bukan metodologi. Perjalanan bukan analisis.
2. Lapangan konflik selalu dikurasi, yang ditunjukkan bukan seluruh realitas
Ini bagian yang jarang diketahui publik.
Di Suriah, siapa pun yang masuk: akan diarahkan rutenya, dibatasi wilayah yang boleh diakses, ditunjukkan warga yang aman untuk ditemui, dijauhkan dari lokasi sensitif, dan diberi narasi oleh pihak yang mengundang.
Artikel Terkait
Menilik Wawancara Lawas Bashar Al Assad Tahun 2016: Bantah Disebut Penjahat Perang, Salahkan Barat atas Eksodus Rakyat Suriah
Blak-blakan Bashar Al Assad dalam Wawancara Tahun 2016: Qatar, Turki, dan Arab Saudi Biayai Pemberontak Suriah
Alasan Ahmad Al Sharaa Diundang AS, Jeffrey Sachs: Ini Hasil Operasi CIA 14 Tahun Gulingkan Pemerintah Suriah
Ahmad Al Sharaa Jadi Presiden Suriah Pertama yang Datangi Gedung Putih, Temui Donald Trump Sejak Merdeka Tahun 1946
Utusan Khusus AS untuk Suriah: Damaskus Bakal Bantu Kami Hadapi dan Bongkar Sisa-sisa ISIS, IRGC, Hamas, dan Hizbullah