SOEHARTO DI ANTARA KONTRIBUSI DAN KONTROVERSI

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Minggu, 9 November 2025 | 18:05 WIB

 

Roland Gunawa, Penulis dan Pegiat Literasi Pesantren

 

 

Sejarah perjalanan bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Soeharto. Sejak zaman penjajahan, perlawanan terhadap penjajahan, kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan, sosoknya tak tergantikan. Sampai akhirnya ia dipercaya menjadi presiden Republik Indonesia kedua menggantikan Presiden Soekarno, bapak revolusi dan sang proklamator.

Soeharto adalah tokoh yang tidak sedikit kontribusinya bagi bangsa Indonesia. Pada saat yang sama, Soeharto juga tokoh yang tak lepas dari kontroversi. Belakangan nama Soeharto kembali menjadi perbincangan terkait dengan usulan namanya menjadi salah satu Pahlawan Nasional. Pro dan kontra pun terjadi. Sebagian kalangan setuju, dan sebagian lain tidak setuju bahkan menolak. Di sini, sangat penting memberi publik pengetahuan yang seimbang antara kontribusi dan kontroversi dari sosok Soeharto.

 

Kontribusi

Kontribusi Soeharto dalam menghadapi dan menyelesaikan kemelut bangsa. Pertama, serangan 1 Oktober 1949 di Yogyakarta. Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, dan Jepang menyerah lalu pergi meninggalkan Indonesia. Pada 1949, Belanda dengan membonceng sekutu datang ingin kembali menjajah Indonesia. belanda menduduki Surabaya, Yogyakarta, dan yang lain. Di Yogyakarta, Belanda mendapatkan perlawanan keras dari tentara Indonesia.

Jenderal Sudirman menunjuk Soeharto sebagai komandan perang untuk melakukan serangan terhadap pasukan Belanda yang telah menduduki Yogyakarta. Dengan strateginya yang jitu, Soeharto berhasil mengecoh pasukan Belanda.

Dalam pemahaman Belanda, tentara Indonesia atau gerilya biasanya menyerang di malam hari. Sehingga pasukan Belanda selalu siaga penuh pada malam hari. Sedangkan pada pagi hari mereka beristirahat dan agak lengang. Ternyata Soeharto memutuskan penyerangan di pagi hari. Sebuah serangan tak terduga. Serangan tentara Indonesia yang dikomandoi Soeharto berhasil memukul mundur dan mengalahkan pasukan Belanda hanya dalam waktu 6 jam.

Tak bisa dibantah bahwa Soeharto adalah sosok yang mempunyai peran penting dan menentukan dalam mengusir penjajah. Pasca perang 6 jam itu, Belanda menyerah.

Kedua, operasi Mandala merebut Irian Barat—yang kemudian diganti dengan nama Papua. Pada tahun 60-an, Irian Barat masih dijajah Belanda. Soekarno merasa kemerdekaan Indonesia masih kurang sempurna selama Irian Barat belum bisa dimerdekakan. Dari situ, Soekarno mengerahkan segala daya upaya agar Irian Barat bisa lepas dari tangan Belanda dan masuk ke dalam pangkuan Indonesia. Selain menggunakan pendekatan diplomasi internasional, meminta dukungan dari negara-negara kuat khususnya AS, juga pendekatan dengan menggunakan peperangan. Dalam pendekatan perang ini, Soekarno memberi kepercayaan kepada Soeharto untuk memimpin penyerbuan ke pasukan Belanda yang masih menduduki tanah Irian Barat.

Menurut Anhar Gonggong, sejarawan Indonesia, menyatakan bahwa Bung Karno berhasil meloby Presiden AS John F Kenedi untuk mendukung Indonesia mengambil Irian Barat sebagai kesatuan dari NKRI. AS meminta Belanda agar meninggalkan Irian Barat. Pada saat yang sama, pasukan tentara Indonesia yang dikomandani Soeharto terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda di Irian Barat. Berdasarkan pendekatan komprehensif diplomasi dan perang, akhirnya Belanda menyerah dan meninggalkan Irian Barat. Lalu Irian Barat resmi terintegrasi dengan NKRI.     

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X