Petunjuk Jalan Kaum Bijak (Minhajul Arifin Imam Al Ghazali)

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Minggu, 23 November 2025 | 12:06 WIB
Jalan hutan pinus kragilan, Jawa Tengah. (traveloka.com)
Jalan hutan pinus kragilan, Jawa Tengah. (traveloka.com)

 

 

Mohammad Irsyad, M.Pd.I

Mudir MBS Barat Magetan

 

Perjalanan seorang murid berporos pada tiga dasar pokok: rasa takut (الخوف), harapan (الرجاء), dan cinta (الحبّ) ; maka rasa takut adalah cabang dari ilmu, harapan adalah cabang dari keyakinan, dan cinta adalah cabang dari ma‘rifah (pengetahuan hakiki tentang Allah).

Tanda adanya rasa takut adalah lari (menjauhi maksiat), tanda adanya harapan adalah usaha dan permohonan, dan tanda cinta adalah mengutamakan (Allah) di atas segalanya.

Perumpamaannya seperti Tanah Suci, Masjidil Haram, dan Ka‘bah. Barang siapa memasuki tanah haram, maka ia aman dari gangguan makhluk. Barang siapa memasuki masjid, maka anggota tubuhnya aman dari digunakan dalam kemaksiatan kepada Allah Ta‘ala. Dan barang siapa memasuki Ka‘bah, maka hatinya aman dari disibukkan oleh selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Apabila seorang hamba telah mencapai keadaan ini, maka wajib baginya untuk melihat perbedaan antara kegelapan malam dan cahaya siang, agar ia tahu apakah yang muncul pada dirinya itu nur (cahaya) dari Allah atau kegelapan pemisah dari Allah.

Demikian pula cahaya ma‘rifah: apabila muncul bersama dengan kesungguhan, kemauan kuat, dan usaha, maka itu adalah tanda ridha Allah kepadanya.Namun bila muncul bersama kemalasan dan kelalaian, maka itu adalah tipu daya dari nafsu. Bila keadaannya menimbulkan kerelaan terhadap maksiat anggota tubuh, maka ia wajib bersyukur kepada Allah atas taufik dan penjagaan-Nya;

Dan jika keadaannya menimbulkan kecintaan kepada mati (karena rindu kepada Allah), maka hendaklah ia tahu bahwa itu bukan disebabkan kebencian terhadap kehidupan, melainkan karena keyakinan bahwa tidak ada tempat kembali selain kepada Allah.

Oleh sebab itu, hendaklah seorang hamba memperbaiki apa yang telah dirusak oleh masa hidupnya dan keburukan pilihannya. Ia harus mensucikan lahirnya dari dosa dan batinnya dari aib, memadamkan api syahwat dalam dirinya, dan menutup pintu kelalaian dari hatinya.

Ia harus menempuh jalan kebenaran dan menaiki kendaraan kejujuran,karena malam hari adalah bukti akhirat, sedangkan tidur adalah saksi kematian. Dan hamba yang datang kepada Allah, pasti menyesal atas masa lalunya dan menangisi apa yang telah ia lewatkan. Allah SWT berfirman :

 

يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ ۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ ۝١٣

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X