Refleksi Ansor Maluku Menyambut Harlah GP Ansor ke-90

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Selasa, 23 April 2024 | 11:34 WIB
KH Chairuddin Talaohu yang merupakan Penasehat GP Ansor Maluku dalam refleksinya menyambut harlah GP Ansor ke-90. (Dokumentasi GP Ansor)
KH Chairuddin Talaohu yang merupakan Penasehat GP Ansor Maluku dalam refleksinya menyambut harlah GP Ansor ke-90. (Dokumentasi GP Ansor)

Kerugian internal yang masih terus terjaga dengan awet adalah pemeliharaan oknum-oknum yang tidak terkaderisasi dan tidak terdistribusi dengan baik dan tepat. Tidak perlu untuk didetailkan singkatnya para penjilat dan penikmat nama besar sudah tidak layak untuk dipelihara dalam organisasi besar di abad yang sudah hampir memasuki era 0.5 ini.

Dalam hal lain yang masih menyangkut internal organisasi, belum ada pengoptimalan dalam tubuh organisasi dalam penguatan ideologi Ahlus Sunnah Wal Jamaah, meskipun diawal saya sudah menyinggungnya.

Semangat tinggi mengawal ajaran ideologi pada tataran kader tapi tidak disertai dengan pemahaman yang maksimal terhadap ideologi sehingga tidak sedikit yang salah sasaran dalam terapan di lapangan.

Maka efeknya akan terjadi dalam lingkup eksternal ketika misalnya Ansor Maluku harus mengutamakan siapa untuk dikawal, disini akan terjadi kebingungan. Maka pengoptimalan dan pendistribusian kader sangat diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam eksekusi di lapangan.

Ansor Maluku belum terbiasa dalam pengembangan organisasi mengikuti kebutuhan trand di masa sekarang, kader-kadernya masih asyik dalam pola klasik mengejar tempat-tempat pemerintahan dalam birokrasi atau partai politik misalnya, nyaman dalam panggung-panggung perhelatan politik tanpa melihat celah-celah lain untuk bisa dikelola dengan baik.

Sangat disayangkan dalam kondisi kader-kader sedang aktif di bidangnya masing-masing misalnya, dalam pembangunan dan pengembangan bisnis, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya selain dunia politik praktis dan birokrasi tapi tidak mendapat perhatian dan mendapat cemoohan, dan yang lebih menyakitkan lagi para oknum-oknum yang hanya mencari nyaman menjadi raja dalam rumah besar dalam kondisi kader-kader sedang sibuk dalam pengembangan dirinya masing-masing.

Tidak perlu banyak untuk disampaikan, saya hanya mengajak kepada Ansor Maluku, sebagai kader yang baik dia selalu jeli dimana letak keburukan untuk bisa diperbaiki.

Senioritas adalah kamus tua di abad 15 lampau, sehingga jika ada kader muda yang layak terlihat kemajuannya di mata khalayak maka patut untuk didukung dan dibuka jalan seluas-luasnya. Perkuat pemahaman ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah agar tidak salah mengawal siapa dan bekerja sama dengan siapa.

Buang kebiasan-kebiasaan abad lampau yang selalu membuat kerdil, saatnya maju berdedikasi tinggi dengan hati yang tertuntun baik dalam Thoriqah Nahdlatul Ulama dengan selalu mengikuti nasehat para guru-guru dan ulama.

Akhirul kalam, Napoleon Bonaparte dalam quotesnya dia berkata "Death is nothing, but to live defeated and inglorious is to die daily", bahwa Kematian bukanlah apa-apa, tetapi hidup dalam kekalahan dan kehinaan adalah mati setiap hari. Selamat berbahagia dalam kemegahan alam yang telah disediakan Tuhan untukmu.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X