Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis
SENAYANPOST - Seorang bayi perempuan lahir di desa Kaliwulu, Plered, Cirebon, 75 tahun lalu. Bayi itu imut. Cantik. Ia diberi nama Kurniah.
Bayi mungil yang lucu dan gemesi itu, tetiba harus menghadapi kenyataan pahit yang tidak disadarinya.
Ibunya sakit. Asiah, sang ibu, kakak ayahku, sakitnya tambah parah. Sampai kemudian meninggal ketika sang anak belum mengerti apa-apa.
Kurniah, tak tahu, apa arti semua itu. Seorang bayi kecil tanpa ibu di sampingnya. Sulit membayangkan, bagaimana ia tumbuh dengan normal, seperti orang lain. Ia dibawa ayahnya ke sana kemari. Dari satu ibu tiri ke ibu tiri yang lain.
Baca Juga: Opini: Lalat yang Memberikan Surga
Jadilah bayi perempuan itu diasuh ayah dan ibu-ibu tirinya. Kurniah punya tiga ibu tiri. Tapi gadis kecil itu tetap tabah.
Tanpa pernah membenci ayah dan ibu-ibu tirinya. Ia anak penurut. Tak pernah protes, apa pun yg dilakukan orang tuanya. Ia menyintai semua ibu tirinya.
Keluarga sang ayah bukan orang kaya. Hidup sederhana. Bahkan sangat sederhana. Dalam kesederhanaan itu, Kurniah kecil tidak pernah hidup neko-neko. Ia menikmati kesederhanaan keluarganya. Ia berbakti kepada ayahnya dalam keadaan apa pun.
Kurniah kecil sekolah di kampungnya. Belum tamat sekolah menengah, ia dipinang seorang pria tamatan sekolah peternakan. Wahidudin namanya.
Baca Juga: Opini: Kisah Yahudi yang Ingin Berterima Kasih, Keberagaman Agama dan Trisno Sutanto
Aku memanggilnya Mang Udin. Khas panggilan akrab di masyarakat Cirebon. Mang Udin, kalau dirunut, masih bersaudara dengan ibu kandung Kurniah. Istilah wong Cerbon tunggal buyut. Satu Mbah buyut.
Usai menikah, gadis cantik yg lembut dan sederhana itu, diboyong suaminya ke Magelang. Suaminya bekerja di bagian pemotongan sapi milik AKABRI, Magelang. Tak jauh dari kompleks perumahan Pancaarga yang sangat luas milik AKABRI.
Tak lama kemudian, sang suami dapat jatah rumah. Rumah ini sebelumnya kosong karena "penghuninya" dipindah ke tempat lain. Tak ada karyawan sipil dengan pangkat kecil yg mau menempati rumah kosong yang sudah dikelilingi semak-semak dan ilalang itu.
Artikel Terkait
Opini: Bansos Tanpa Pamrih
Opini: Syariah Islam dalam Kitab Kama Sutra Assikalaibineng
Opini: The Miracle Man, Kisah Masjid Sholawat dan Denny JA
Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan
Opini: Kebhinekaan untuk Kemanusiaan
Opini: Kisah Yahudi yang Ingin Berterima Kasih, Keberagaman Agama dan Trisno Sutanto
Opini: Lalat yang Memberikan Surga