Opini: Malaikat dari Kandang Jaran Itu Telah Pergi

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Kamis, 4 April 2024 | 20:10 WIB
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon

 

Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis

SENAYANPOST - Seorang bayi perempuan lahir di desa Kaliwulu, Plered, Cirebon, 75 tahun lalu. Bayi itu imut. Cantik. Ia diberi nama Kurniah.

Bayi mungil yang lucu dan gemesi itu, tetiba harus menghadapi kenyataan pahit yang tidak disadarinya.

Ibunya sakit. Asiah, sang ibu, kakak ayahku, sakitnya tambah parah. Sampai kemudian meninggal ketika sang anak belum mengerti apa-apa.

Kurniah, tak tahu, apa arti semua itu. Seorang bayi kecil tanpa ibu di sampingnya. Sulit membayangkan, bagaimana ia tumbuh dengan normal, seperti orang lain. Ia dibawa ayahnya ke sana kemari. Dari satu ibu tiri ke ibu tiri yang lain.

Baca Juga: Opini: Lalat yang Memberikan Surga

Jadilah bayi perempuan itu diasuh ayah dan ibu-ibu tirinya. Kurniah punya tiga ibu tiri. Tapi gadis kecil itu tetap tabah.

Tanpa pernah membenci ayah dan ibu-ibu tirinya. Ia anak penurut. Tak pernah protes, apa pun yg dilakukan orang tuanya. Ia menyintai semua ibu tirinya.

Keluarga sang ayah bukan orang kaya. Hidup sederhana. Bahkan sangat sederhana. Dalam kesederhanaan itu, Kurniah kecil tidak pernah hidup neko-neko. Ia menikmati kesederhanaan keluarganya. Ia berbakti kepada ayahnya dalam keadaan apa pun.

Kurniah kecil sekolah di kampungnya. Belum tamat sekolah menengah, ia dipinang seorang pria tamatan sekolah peternakan. Wahidudin namanya.

Baca Juga: Opini: Kisah Yahudi yang Ingin Berterima Kasih, Keberagaman Agama dan Trisno Sutanto

Aku memanggilnya Mang Udin. Khas panggilan akrab di masyarakat Cirebon. Mang Udin, kalau dirunut, masih bersaudara dengan ibu kandung Kurniah. Istilah wong Cerbon tunggal buyut. Satu Mbah buyut.

Usai menikah, gadis cantik yg lembut dan sederhana itu, diboyong suaminya ke Magelang. Suaminya bekerja di bagian pemotongan sapi milik AKABRI, Magelang. Tak jauh dari kompleks perumahan Pancaarga yang sangat luas milik AKABRI.

Tak lama kemudian, sang suami dapat jatah rumah. Rumah ini sebelumnya kosong karena "penghuninya" dipindah ke tempat lain. Tak ada karyawan sipil dengan pangkat kecil yg mau menempati rumah kosong yang sudah dikelilingi semak-semak dan ilalang itu.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Opini: Bansos Tanpa Pamrih

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X