Tujuannya hanya satu, yaitu keluar dari daftar Foreign Terrorist Organization (FTO).
Selama masih berstatus teroris, Al Sharaa tidak bisa ikut perundingan internasional, tidak bisa mendapat bantuan rekonstruksi, dan tidak bisa diterima sebagai aktor sah.
Gestur ke Amerika adalah bagian dari kampanye legitimasi.
4. Melamar Peran Baru sebagai 'Taliban versi Suriah'
Taliban berhasil masuk jalur diplomasi global lewat Doha Agreement. Itu jadi contoh paling menggoda bagi Al Sharaa.
Al Sharaa ingin formula yang sama: dianggap representasi lokal, bukan ancaman global, bisa negosiasi masa depan Suriah, dan bisa hidup berdampingan dengan kekuatan internasional.
Singkatnya, Al Sharaa ingin status 'bukan jihad global' tapi entitas lokal yang bisa dinegosiasi.
Ini transformasi strategis, bukan transformasi ideologis.
5. Menawarkan Diri sebagai Mitra Anti-ISIS untuk AS
Ini bagian paling realistis. ISIS masih dianggap ancaman nomor satu bagi AS.
Menariknya, HTS adalah musuh alami ISIS sehingga Al Sharaa mencoba menjual: "Kami bisa menjadi tameng Anda di Suriah Utara. Biarkan kami hidup, kami menahan ISIS".
Washington tidak harus menyukai Al Sharaa. Cukup melihat Al Sharaa sebagai alat yang berguna.
Dan bagi Al Sharaa, itu sudah cukup untuk bertahan.
Artikel Terkait
Blak-blakan Bashar Al Assad dalam Wawancara Tahun 2016: Qatar, Turki, dan Arab Saudi Biayai Pemberontak Suriah
Alasan Ahmad Al Sharaa Diundang AS, Jeffrey Sachs: Ini Hasil Operasi CIA 14 Tahun Gulingkan Pemerintah Suriah
Ahmad Al Sharaa Jadi Presiden Suriah Pertama yang Datangi Gedung Putih, Temui Donald Trump Sejak Merdeka Tahun 1946
Utusan Khusus AS untuk Suriah: Damaskus Bakal Bantu Kami Hadapi dan Bongkar Sisa-sisa ISIS, IRGC, Hamas, dan Hizbullah
'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial