SENAYANPOST - Kunjungan Presiden sementara Suriah Ahmad Al Sharaa ke Gedung Putih di Washington dan gestur ramahnya terhadap Presiden AS Donald Trump bukan sekadar kejutan.
Ini adalah pembelokan arah strategis terbesar dalam dunia jihadis pasca-2001.
Pertanyaan yang lebih penting bukan "mengapa dia ke sana", melainkan kenapa dia memilih momen ini dan apa yang sedang ia tawar di meja geopolitik.
Karena satu hal pasti: Al Sharaa tidak pernah bergerak tanpa hitung-hitungan panjang.
Artikel ini akan mengulas motif geopolitik pria yang dulunya disebut Abu Mohammad Al Jolani, dari jihad global menuju diplomasi Gedung Putih AS.
Baca Juga: 'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial
1. Kehilangan Sponsor Sunni Utama
Di tahun-tahun awal perang Suriah, Hayat Tahrir Al Sham atau HTS yang sebelumnya adalah Jabhat Al Nusra mendapat dukungan moral dan logistik dari berbagai poros Timur Tengah.
Tapi peta setelah jatuhnya Bashar Al Assad pada akhir tahun lalu berubah total.
Arab Saudi memukul mundur arus ekstremisme dan melakukan modernisasi internal.
Qatar bergerak ke tengah dan fokus stabilisasi kawasan.
Turki sibuk dengan ekonomi dan pembicaraan normalisasi dengan Suriah.
UEA dan Mesir berada di garis keras anti ekstremisme.
Al Sharaa kini tak punya "orang tua angkat".
Artikel Terkait
Blak-blakan Bashar Al Assad dalam Wawancara Tahun 2016: Qatar, Turki, dan Arab Saudi Biayai Pemberontak Suriah
Alasan Ahmad Al Sharaa Diundang AS, Jeffrey Sachs: Ini Hasil Operasi CIA 14 Tahun Gulingkan Pemerintah Suriah
Ahmad Al Sharaa Jadi Presiden Suriah Pertama yang Datangi Gedung Putih, Temui Donald Trump Sejak Merdeka Tahun 1946
Utusan Khusus AS untuk Suriah: Damaskus Bakal Bantu Kami Hadapi dan Bongkar Sisa-sisa ISIS, IRGC, Hamas, dan Hizbullah
'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial