Kita tahu, Al Sharaa tanpa sponsor adalah Suriah yang menuju kematian politik.
Oleh karena itu, Al Sharaa memilih sponsor terakhir yang tersisa: Washington.
2. Bertahan dari Tekanan Rusia
Pasca keruntuhan rezim Assad, kekuatan penentu di lapangan berubah.
Al Sharaa sadar Rusia ingin menutup 'file Idlib' secara permanen. Kemudian sisa-sisa militer Suriah ingin merebut kembali wilayah Idlib.
Di lain pihak, Iran akan mendorong operasi besar untuk menghapuskan faksi takfiri.
Tanpa perlindungan internasional, nasib Al Sharaa selesai.
Oleh karena itu, Al Sharaa bergerak cepat dengan masuk ke orbit Barat sebelum dihancurkan orbit Timur.
Ini bukan langkah ideologis, tapi langkah bertahan hidup.
3. Melepas Label Teroris untuk Masuk Politik Internasional
Sejak 2016, Al Sharaa sudah menunjukkan tanda-tanda “rebranding” dengan terus berganti nama mulai dari Front Al Nusra, Jabat Fateh Al Sham hingga akhirnya menjadi Hayat Tahrir Al Sham.
Tidak hanya itu, Al Sharaa membentuk pemerintahan sipil yang disebut Syrian Salvation Government atau SSG ala 'otonomi lokal'.
Kemudian memunculkan dirinya dalam wawancara stasiun televisi Barat. Tampil dengan pakaian sipil, bukan jubah militan.
Artikel Terkait
Blak-blakan Bashar Al Assad dalam Wawancara Tahun 2016: Qatar, Turki, dan Arab Saudi Biayai Pemberontak Suriah
Alasan Ahmad Al Sharaa Diundang AS, Jeffrey Sachs: Ini Hasil Operasi CIA 14 Tahun Gulingkan Pemerintah Suriah
Ahmad Al Sharaa Jadi Presiden Suriah Pertama yang Datangi Gedung Putih, Temui Donald Trump Sejak Merdeka Tahun 1946
Utusan Khusus AS untuk Suriah: Damaskus Bakal Bantu Kami Hadapi dan Bongkar Sisa-sisa ISIS, IRGC, Hamas, dan Hizbullah
'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial