Netanyahu dan pemerintahannya pun bersikeras untuk melanjutkan pembantaian di Jalur Gaza.
Baca Juga: Netanyahu Jadi Buronan ICC, Jaksa Karim Khan Minta Semua Negara Kooperatif Termasuk Indonesia
Sementara itu, faksi perlawanan yang diwakili oleh Hamas meminta gencatan senjata permanen kemudian membicarakan pertukaran tawanan.
Konfirmasi tewasnya salah seorang tawanan tersebut terjadi setelah komunikasi tersambung kembali.
"Setelah kembalinya kontak yang terputus selama berminggu-minggu dengan mujahidin yang melindungi tahanan musuh, menjadi jelas bahwa seorang tahanan wanita musuh terbunuh di wilayah yang menjadi sasaran agresi Zionis di Jalur Gaza utara. Sementara bahaya masih membayangi nyawa seorang tawanan lainnya," ungkap Abu Ubaidah.
Abu Ubaidah menegaskan bahwa Israel harus menghadapi dilema besar antara hilangnya jenazah para tawanan ini karena kehancuran yang terus meluas di Jalur Gaza atau tewasnya para tawanan itu sendiri.
Baca Juga: Alasan ICC Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Mohammed Deif Komandan Hamas, Ini Daftar Tuduhannya
"Musuh harus bersiap menghadapi dilema hilangnya jenazah tahanan karena kehancuran yang meluas dan meninggalnya beberapa tawanan," pungkasnya.
Diketahui, sekitar 100 warga Israel masih menjadi tawanan para pejuang Palestina untuk nantinya akan ditukar dengan warga Palestina yang dipenjara jika kesepakatan gencatan senjata tercapai.***
Artikel Terkait
Qatar Bantah Usir Hamas dari Doha Usai Tangguhkan Negosiasi Gencatan Senjata di Gaza
Kelaparan di Gaza Makin Parah, AS Tarik Ancaman untuk Berhenti Kirim Senjata ke Israel
Pembantaian Makin Parah di Gaza Utara, Israel Penjajah Usir 100 Ribu Rakyat Palestina dalam 24 Jam Terakhir
Komite Khusus PBB Sebut Agresi Israel ke Jalur Gaza Mengarah Genosida
Skandal Korupsi Benjamin Netanyahu Hantui sang Perdana Menteri, Jadi Alasan Perpanjang Perang di Gaza