Jelas, hal itu sangat menyengsarakan rakyat di musim dingin negara-negara tersebut yang suhunya menyentuh nol derajat Celsius. Kasus di atas menjadi bukti bahwa dolar AS bukan segala-galanya bagi Rusia.
Baca Juga: Raja Salman dan Presiden Iran Saling Undang
Di pihak lain, utang AS telah membengkak mencapai 31,4 triliun USD atau setara Rp 469.517 triliun. Jumlah tersebut sudah melampaui ambang batas keuangan Paman Sam.
Menteri Keuangan AS, Janet Yellen telah mengingatkan banyaknya utang AS akan merepotkan neraca keuangannya.
Bahkan bisa merusak nilai dolar jika negara-negara mitra dagang Amerika tidak lagi mempercayai USD. Kasus Arab Saudi yang bertransaksi dengan yuan Cina, misalnya, membuat Washington cemas.
"Sanksi ekonomi yang dijatuhkan pada Rusia dan negara-negara lain oleh Amerika Serikat (AS) menempatkan dominasi dolar dalam bahaya karena negara-negara tersebut mencari alternatif," ungkap Janet Yellen.
Baca Juga: Yana Mulyana Jadi Tersangka Kasus Suap, KPK Geledah Balai Kota Bandung
"Ada risiko ketika kita menggunakan sanksi finansial yang dikaitkan dengan peran dolar yang seiring waktu dapat merusak hegemoni dolar," lanjut Yellen pada Minggu, 16 April 2023.
Menurutnya, hal itu menimbulkan keinginan Cina, Rusia, hingga Iran untuk mencari mata uang alternatif. Dengan demikian, ancaman dedolarisasi benar-benar nyata.
Berita terbaru, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengungkapkan niatnya untuk segera mengganti dolar AS dalam perdagangan globalnya.
"Mengapa lembaga seperti perbankan BRICS tidak dapat memiliki mata uang untuk membiayai hubungan perdagangan antara Brasil dan Tiongkok, serta antara Brasil daun semua negara BRICS? Siapa yang memutuskan bahwa dolar AS adalah mata uang (perdagangan) setelah berakhirnya paritas emas?" ujar Presiden Brasil tersebut.
Lula da Silva menilai, saat ini beberapa negara perlu membuat dirinya menjadi lebih tenang, alih-alih mengejar dolar AS hanya untuk melakukan ekspor yang seharusnya dapat dilakukan dengan mata uangnya sendiri.
Kecemasan Yellen terhadap dedolarisasi memang nyata. Langkah memperkecil dominasi dolar AS di perdagangan internasional saat ini terus diupayakan negara-negara BRICS.
Ini bisa membuat nilai dan kredibilitas mata uang AS tersebut terganggu. Aliansi BRICS telah menggaungkan niatnya untuk menggeser dolar AS dari perdagangan global. Mereka ingin hadirkan mata uang baru.
Artikel Terkait
Opini: Olahraga Sepakbola dan Olahseni Politik
Opini: Ida Dayak dan Cinta Tuhan
Opini: Buya Syafii dan Mbah Moen
Opini: AM Hendropriyono Bicara soal Taman Sekar Wijaya Kusuma hingga Urgensi Aksara Nusantara
Opini: Redupnya Adidaya Paman Sam