Oleh: AM Hendropriyono*
SENAYAN POST - Pandangan para penyelenggara Taman Sekar Wijaya Kusuma (TSWK) adalah kepribadian bangsa Indonesia di bidang kebudayaan perlu dibangkitkan kembali setelah kini dirasakan semakin pudar, akibat dari lamanya penjajahan di masa lampau dan berlanjut dengan besarnya pengaruh dari berbagai macam kebudayaan asing yang negatif.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang bertekad mempunyai satu bahasa lisan yaitu bahasa Indonesia, perlu segera dilengkapi dengan bahasa tulisan yaitu aksara Indonesia atau aksara Nusantara di era kini yang serba internet dan berkecerdasan buatan.
Aksara Nusantara adalah aksara Jawa dalam bahasa Indonesia yang semula sebagai aksara Jawa temuan Aji Saka, pada tahun 826 Masehi diberlakukan di seluruh daerah yang dipersatukan oleh Majapahit. Bahkan tarikh Saka pernah digunakan secara resmi di Kerajaan Majapahit selama 234 tahun (Tahun 1 Saka = Tahun 78 Masehi).
Kepentingan diberlakukannya Aksara Nusantara kini adalah demi mencegah semakin maraknya pemberlakuan aksara asing seperti yang terjadi di kota Baubau Sulawesi Tenggara, yang Pemerintah Daerahnya menerapkan aksara Hangul bangsa Korea dalam kurikulum lokal di sekolah.
Baca Juga: Jadwal Rilis Terbaru dan Prediksi Manga One Piece Chapter 1081, Oda Sensei Istirahat Sepekan
Kini aksara Hangul tersebut mulai banyak digunakan di gedung-gedung baik milik pemerintah maupun swasta.
Tugas dari Taman Sekar Wijaya Kusuma (TSWK) adalah sebagai berikut.
a. Menjadikan diri sebagai etalase dari keluhuran sejarah dan kebudayaan asli Indonesia.
b. Membimbing generasi penerus secara tutwuri handayani, untuk menggali lebih dalam ke akar kebudayaan asli bangsa Indonesia, dengan menguasai aksara Nusantara.
Baca Juga: Komentar Warga Usai Wali Kota Yana Mulyana Ditangkap OTT KPK: Memalukan Bandung Saja
c. Berjuang agar aksara Nusantara dapat diresmikan oleh otoritas pusat, sehingga dapat meletakannya pada platform digital dan memperoleh domain internet seperti 43 negara lainnya di dunia.
Filsafat negara bangsa, yaitu Pancasila dengan UUD 1945 dan sesanti Bhinneka Tunggal Ika, yang mencerminkan persatuan bangsa Indonesia dalam keberagaman suku, ras, agama dan golongan.
Persatuan Indonesia senantiasa digalang demi kekuatan dan kemerdekaan untuk mengenyam keindahan seni dan kultur pribadinya, seiring dengan proses akulturasi budaya modern yang tepat guna.
Tantangan yang harus dijawab oleh Indonesia adalah perkembangan situasi geopolitik yang semakin mengerucut pada kondisi tatanan dunia yang unipolar ke arah multipolar, sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina yang berlarut-larut sejak Maret 2022.
Artikel Terkait
Namanya Sering Dikaitkan Pelanggaran HAM di Talangsari, AM Hendropriyono: Saya Tidak Sejahat dan Sejelek Itu
Indonesia Gagal Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U 20, Sebagai Orang Tua AM Hendropriyono Komentar Begini
Opini : Perhelatan Piala Dunia U 20 yang Batal l Oleh AM Hendropriyono
Opini : Hentikan Gaduh antar Anghita Negara Kekeluargaan l Oleh AM Hendropriyono
AM Hendropriyono soal Politikus yang Tolak Timnas Israel: Jangan Main Makan Saja, Nanti Perut Sakit