SENAYANPOST - Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI), lembaga kajian pertahanan dan keamanan yang berbasis di Jakarta, menggelar diskusi daring bertajuk "Spheres of Influence and Strategic Retrenchment: How Trump Reshapes Great Power Competition and Its Implications for the Indo-Pacific".
Diskusi ini menghadirkan akademisi dan praktisi untuk mengulas perubahan orientasi kebijakan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump serta implikasinya terhadap stabilitas keamanan kawasan Indo Pasifik.
Pembahasan menitikberatkan pada tahun pertama masa jabatan kedua Trump yang ditandai oleh kecenderungan retrenchment strategis, pendekatan transaksional terhadap negara-negara sekutu.
Di sisi lain, ISI turut membedah terkait penguatan konsep offshore balancing dalam merespons persaingan kekuatan besar, khususnya dengan Tiongkok.
Baca Juga: Mantan Diplomat Inggris Klaim Iran Dapat Kalahkan Israel Penjajah dalam Perang Besar
Peran AS dalam Kawasan Strategis Indo-Pasifik
Dalam diskusi tersebut, Dosen Defence Studies di King’s College London, Dr. Zeno Leoni menyatakan, pemerintahan Trump mendorong sekutu Amerika Serikat untuk memikul tanggung jawab keamanan yang lebih besar, tanpa sepenuhnya menarik diri dari kawasan-kawasan strategis utama.
Menurut Leoni, kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi pusat gravitasi ekonomi dan strategis global, sehingga Amerika Serikat tidak mungkin melepaskan kepentingannya di wilayah tersebut.
Kondisi ini tercermin dari distribusi kekuatan laut Amerika Serikat, dengan sekitar 60 persen aset angkatan laut ditempatkan di Indo-Pasifik, serta perhatian berkelanjutan terhadap isu-isu strategis seperti Laut China Selatan dan Taiwan.
Namun demikian, gaya negosiasi yang agresif dan kerap tidak terprediksi terhadap sekutu dinilai berpotensi melemahkan kepercayaan terhadap tatanan internasional berbasis aturan yang selama ini menopang stabilitas kawasan.
"Jika Amerika Serikat terus dipersepsikan sebagai aktor yang tidak konsisten, ketidakpastian akan menjadi kondisi permanen dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik," kata Leoni.
Baca Juga: Jika Rezim Iran Runtuh, Siapa yang Mengisi Kekuasaan? Ini Jawaban dari Washington
Pengawasan Maritim dan Moderinisasi Kekuatan Laut
Dari perspektif pertahanan Indonesia, Kepala Pusat Studi Maritim Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Salim, S.E., M.Phil., M.Tr.Opsla., menilai retrenchment kebijakan luar negeri AS mendorong negara-negara kawasan, termasuk Indonesia, untuk memperkuat otonomi strategis melalui internal balancing.
Artikel Terkait
Menlu AS Marco Rubio soal Pemerintah Iran Pasca Demonstrasi: Berubah atau Mundur
Ketua Parlemen Iran: Teheran Terbuka untuk Dialog dengan AS, Jika 'Tulus'
Presiden AS Donald Trump Berniat Lanjutkan Dialog dengan Iran, Desak Teheran Hentikan Pengembangan Senjata Nuklir
Menlu AS Marco Rubio Sebut Pemerintah Iran Melemah dari Sebelumnya, Ungkap Alasan Kirim USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah
Menlu AS Marco Rubio Singgung Perubahan Rezim di Iran: Lebih Kompleks dari Venezuela