SENAYANPOST - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa Teheran terbuka untuk dialog dengan Amerika Serikat (AS) di tengah ketegangan hubungan dua negara itu.
Lebih lanjut, Ghalibaf menerangkan bahwa Teheran terbuka jika Washington benar-benar siap untuk dialog tentang potensi kesepakatan.
Kesepakatan yang dimaksud terkait nuklir dan pertahanan.
"Jika ini adalah pembicaraan tulus untuk mencapai kesepakatan dalam kerangka peraturan internasional, maka ya. Tetapi bukan itu jenis pembicaraan yang diinginkan presiden AS (Donald Trump). Dia hanya ingin memaksakan kehendaknya pada orang lain," kata Mohammad Bagher Ghalibaf pada 29 Januari 2026, dalam sebuah wawancara dengan CNN, dikutip SenayanPost.com dari TASS News Agency.
Baca Juga: Menlu AS Marco Rubio soal Pemerintah Iran Pasca Demonstrasi: Berubah atau Mundur
Ghalibaf mengatakan bahwa jika Washington benar-benar serius untuk berdialog dan mencapai kesepakatan, Presiden AS itu mungkin akan mendapat Nobel Perdamaian.
"Menurut pendapat saya, jika Trump benar-benar jujur, mencari perdamaian dan ingin mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian, dia perlu menuju perdamaian sejati dan tindakan pertamanya haruslah membebaskan diri dari para penghasut perang dan mereka yang menginginkan Iran tunduk," ujarnya.
Ia juga tidak menutup kemungkinan Trump akan mengerahkan tentara AS untuk kembali bertempur di Timur Tengah.
"Mungkin Tuan Trump dapat memulai perang, tetapi dia tidak memiliki kendali atas akhirnya. Ribuan tentara Amerika yang dikerahkan (ke Timur Tengah) ribuan kilometer dari rumah pasti akan terluka, yang bukanlah hal yang baik," imbuhnya.
Sebelumnya, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, mengatakan bahwa Teheran akan menganggap setiap tindakan agresif AS sebagai awal dari perang skala penuh dan memperingatkan tentang tanggapan Iran.
Iran akan menganggap setiap tindakan agresif oleh Amerika Serikat sebagai awal dari perang skala penuh, kata Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, seraya memperingatkan tentang pembalasan segera.
"Gagasan 'serangan terbatas' adalah ilusi. Setiap tindakan militer oleh AS dari mana saja dan pada tingkat apa pun, akan dianggap sebagai awal perang dan tanggapannya akan segera dan belum pernah terjadi sebelumnya," tulisnya di halaman X-nya.
Ia menambahkan bahwa tanggapan tersebut akan ditujukan kepada Amerika Serikat dan Israel, serta negara-negara lain yang akan mendukung agresi ini.
Artikel Terkait
Pengamat: Keruntuhan Rezim Iran Bisa Datang Perlahan, Lalu Tiba-Tiba
Pengamat: Iran Tak Bisa Kembali ke Status Quo, Demokrasi Juga Belum Pasti
Mantan Intelijen Israel: Opsi Militer terhadap Iran Justru Rugikan Kepentingan Washington
USS Abraham Lincoln 'Parkir' di Timur Tengah, Menlu Iran Sebut Teheran Tak Gentar dan Siap Berunding di Meja Diplomasi
Menlu AS Marco Rubio soal Pemerintah Iran Pasca Demonstrasi: Berubah atau Mundur