Jika Rezim Iran Runtuh, Siapa yang Mengisi Kekuasaan? Ini Jawaban dari Washington

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Jumat, 30 Januari 2026 | 21:02 WIB
Menlu AS Marco Rubio singgung soal perubahan rezim di Iran setelah Presiden Donald Trump ultimatum Teheran. (X.com/@khamenei_ir)
Menlu AS Marco Rubio singgung soal perubahan rezim di Iran setelah Presiden Donald Trump ultimatum Teheran. (X.com/@khamenei_ir)

SENAYANPOST - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan tanggapannya terkait pertanyaan siapa yang akan mengambil alih kepemimpinan Iran jika terjadi perubahan rezim.

Saat ini, Iran dipimpin oleh Ayatollah Ali Khamenei yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi dan Presiden Massoud Pezeshkian.

Dalam pernyataannya di hadapan komite Senat, Rubio mengakui bahwa memaksakan perubahan rezim di Iran akan jauh lebih rumit daripada di Venezuela, di mana AS memaksa penggulingan Presiden Nicolas Maduro.

"Ini bukan makanan beku siap saji, yang bisa Anda masukkan ke dalam microwave dan dalam dua setengah menit sudah siap dimakan. Ini adalah hal-hal yang kompleks," kata Marco Rubio pada 28 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari NDTV.

Baca Juga: Menlu AS Marco Rubio Singgung Perubahan Rezim di Iran: Lebih Kompleks dari Venezuela

Ia menambahkan bahwa 'tidak ada yang tahu' siapa yang akan mengambil alih jika pemimpin tertinggi Iran digulingkan.

"Saya rasa tidak ada yang bisa memberikan jawaban sederhana tentang apa yang akan terjadi selanjutnya di Iran jika Pemimpin Tertinggi dan rezimnya jatuh," katanya.

Sebelumnya, semasa demonstrasi, ada satu figur yang digadang-gadang menggantikan Khamenei, yaitu Reza Pahlavi

Reza Pahlavi merupakan Putra Mahkota Monarki Iran yang saat ini diasingkan.

Sementara itu, Dr. Alain Gabon, Profesor Madya Studi Prancis dan ketua Departemen Bahasa dan Sastra Asing di Universitas Virginia Wesleyan di Virginia Beach, AS mengatakan bahwa Trump tidak terlalu mempercayai Reza Pahlavi.

Baca Juga: Menlu AS Marco Rubio Sebut Pemerintah Iran Melemah dari Sebelumnya, Ungkap Alasan Kirim USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah

"Mengenai poin terakhir, Trump tidak menghormati maupun mempercayai Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran, yang mengaku memimpin protes dari Los Angeles," kata Alain Gabon pada 26 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.

Pernyataan Rubio muncul setelah Trump meningkatkan ketegangan dengan Iran, mengeluarkan peringatan baru dan keras kepada Teheran mengenai program nuklir dan mengancam tindakan militer jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Menanggapi ancaman Trump, Iran mengatakan bahwa pasukannya akan segera dan tegas menanggapi operasi militer AS apa pun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Middle East Eye, NDTV

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X