Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis/Wartawan PPWI
SENAYANPOST - Putra terbaik Indonesia, Faisal Basri Batubara (65), tokoh intelektual dan ekonom, yang merawat "kewarasan logika Republik" telah pergi untuk selamanya, Kamis dini hari, 5 September 2024, di RS Mayapada, Jakarta.
Ceramah, obrolan, dan tulisan Faisal, telah membuka mata "para pejalan suci" yang ingin membangun negeri ini dengan mata hati dan moralitas tanpa korupsi.
Faisal selalu berteriak hingga kering tenggorokannya untuk mengungkap kebenaran, apa yang terjadi di negeri yang -- pinjam istilah sastrawan Mochtar Lubis -- penuh kemunafikan dan kebohongan itu.
Demi membela kebenaran dan kewarasan logika, Faisal tak pernah takut kepada siapa pun. Ia terus berteriak.
Baca Juga: Ford Everest Generasi Terbaru Hadir dengan Teknologi Keamanan yang Canggih
Di jalanan, di kampus, di ruang seminar. Di mana pun, selagi ada angin yang bisa mengantarkan kebenaran, Faisal selalu berteriak. Tanpa lelah.
Seperti kicau burung Manyar yang - kata Anthony de Mello -- akan terus bernyanyi. Karena hanya itu "kemampuan alamiah" burung Manyar; menyanyi, menyampaikan isi hati.
Begitulah Faisal! Ia menyampaikan kebenaran dan merawat kewarasan logika. Karena itulah kemampuan alamiahnya.
Faisal terus "menyanyi" di mana pun. Tak peduli orang mendengarnya atau tidak.
Maka tak heran, bila tak sedikit orang menganggap suara Faisal sudah keterlaluan.
Tapi tak sedikit pula orang menganggap suara Faisal adalah kebenaran. Ia menyatakan kegelisahan kaum salik. Dan hati yang bersih akan mendengarkannya.
Ketika Presiden Joko "Mulyono" Widodo, yang konon kinerjanya mendapat apresiasi 80 persen rakyat, menepuk dada dengan keberhasilan hilirisasi nikel, Faisal justru mencibirnya.
Artikel Terkait
Opini: Korupsi dan Pembubaran Parpol
Suami Zaskia Gotik Datang ke KPK, Diperiksa Atas Kasus Korupsi Gereja Papua
Opini: Firli dan Korupsi
Jelang Pemilu, Ikhwanul Muslimin Yordan Diduga Korupsi Donasi untuk Gaza Palestina
27 Caleg DPR RI Ini Ternyata Mantan Terpidana Korupsi, Simak Daftar Lengkapnya di Sini
Opini: Korupsi yang Jorok