Baca Juga: 'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial
Ketika Argumen Tidak Bisa Dibantah, Seranglah Pembawanya
Setelah wacana damai dihapus, yang muncul bukan bantahan ilmiah, melainkan pola lama seperti serangan personal, candaan merendahkan, narasi sektarian, labeling mazhab, dan segala bentuk delegitimasi.
Ini strategi klasik kelompok yang tidak memiliki amunisi intelektual.
Kalau isinya tidak bisa dilawan, maka seranglah orangnya.
Dan karena komunitas digital ini sering anti-data, anti-literatur, dan anti-logika, mereka akan memilih jalan yang paling cepat, yaitu reduksi pribadi, bukan debat.
Fenomena Validasi Diam-diam
Yang menarik dari represi seperti ini adalah satu pola: ketika wacana damai dipadamkan di permukaan, ia justru mendapatkan validasi di bawah tanah.
Diam-diam, dari orang-orang yang lebih berilmu, lebih tenang, lebih objektif.
Karena fakta tidak berubah hanya karena dihapus. Dan yang memahaminya akan tahu bahwa tahrif bukan isu mutakhir, islah mazhab sudah berjalan, konflik sektarian adalah mesin politik, dan terakhir narasi damai harus dilindungi, bukan dibungkam.
Sensor hanya menghapus teks, bukan kebenaran.
Baca Juga: SOEHARTO DI ANTARA KONTRIBUSI DAN KONTROVERSI
Ruang Digital Lebih Sektarian daripada Timur Tengah Itu Sendiri
Ironi terbesar dari fenomena ini adalah di banyak wilayah di Timur Tengah, seperti Iran, Irak, Lebanon, Suriah, kerja sama Sunni dan Syiah sudah menjadi kebutuhan geopolitik.
Tetapi di ruang digital Indonesia, konflik yang sudah mereda di tanah Arab justru difabrikasi ulang demi kebutuhan propaganda.