Ekonomi Kebencian: Mengapa Narasi Islah Tidak Boleh Hidup?
Di ruang-ruang digital yang digerakkan oleh fanatisme sektarian, konflik adalah komoditas.
Konflik melahirkan engagement, reaksi, kemarahan, loyalitas kelompok atau alibi moral untuk menyerang lawan.
Ketika seseorang mengatakan "Sunni dan Syiah sudah berdamai" maka otomatis muncul 'alarm bahaya'.
Karena jika perdamaian dianggap wajar, maka bisnis kebencian runtuh.
Hukum kelompok ekstrem selalu sederhana: musuh harus hidup supaya kita tetap relevan.
Dan musuh itu tidak boleh mati oleh satu kalimat damai.
Baca Juga: MENCARI ILMU: DARI KERTAS SAKU KE KECERDASAN BUATAN
Sensor Mikro
Ini adalah represi gaya baru yang lebih berbahaya daripada sensor negara.
Sensor negara biasanya dilakukan oleh aparat, institusi, dan lembaga resmi.
Namun sensor mikro dilakukan oleh admin grup, moderator partisan, dan buzzer anonim.
Sensor ini cepat, diam-diam, tanpa jejak, tanpa mekanisme keberatan, dan tanpa akuntabilitas.
Hanya satu klik, wacana hilang, kebenaran redup, dan islah padam.
Akibatnya jauh lebih berbahaya, ruang publik digital menjadi gema bagi narasi paling keras dan paling dangkal.