SENAYANPOST - Konflik Sunni dan Syiah adalah isu lama.
Sebagian besar ulama lintas mazhab sudah menempatkannya dalam ruang dialog, bukan perang.
Namun, di era digital, konflik lama ini justru lahir kembali dalam bentuk baru: represi naratif yang terjadi di komunitas-komunitas daring.
Tidak memakan senjata, tidak memakai kekuasaan negara, namun tetap efektif dalam memadamkan wacana damai.
Fenomenanya halus, tapi dampaknya tajam.
Baca Juga: Petunjuk Jalan Kaum Bijak (Minhajul Arifin Imam Al Ghazali)
Ketika Seseorang Bicara Damai dan Komentarnya Dihapus Tanpa Jejak
Skenarionya sederhana.
Seseorang mengajukan pandangan bahwa perdebatan tahrif Qur'an sudah usang, hubungan Sunni dan Syiah kini cenderung islah, dan ia memperkuat pernyataan itu dengan rujukan kitab.
Ini jenis argumen yang seharusnya bisa menyejukkan suasana, membuka ruang dialog, dan mendorong rekonsiliasi.
Namun, bagi sebagian komunitas digital ekstrimis, reaksi yang muncul bukanlah diskusi tetapi penghapusan instan.
Komentar hilang, wacana padam, seolah-olah diskusi tidak pernah terjadi.
Fenomenanya jelas, perdamaian dianggap lebih berbahaya daripada kebencian.
Baca Juga: Mukadimah Minhajul Arifin Imam Al Ghazali