Itulah sebabnya, Yayu Kur kadang dagang baju. Belinya dari pasar Tegalgubug, kampungku, dijual di kompleks Pancaarga. Hasilnya bisa sedikit menambal kekurangan uang untuk sekolah anak-anak.
Baca Juga: Teror di Moscow; Dampak Terhadap Indonesia ?
Meski dalam kondisi kekurangan, Mang Udin dan Yayu Kur sering tidak tega kalau melihat orang terlantar. Dengan susah payah, Yayu Kur mengambil dua anak terlantar. Namanya Nanang dan Tulus.
Keduanya disekolahkan sampai tamat SMA. Tentu saja, dua anak ini, ikut membantu pekerjaan Yayu Kur di rumah. Entah ngurus kebun di samping rumah, atau bebersih. Kadang menjadi mitra anak-anaknya dalam latihan bela diri.
Nanang dan Tulus satu klub latihan silat dengan Ade. Di pencak silat Pamur. Tulus satu tingkat di bawah Ade di klub silat Madura itu.
Oh ya, Yayu Kur juga mengambil anak gadis setempat yang terlantar karena ditinggal ibunya. Namanya Maya. Karena ibunya tak ada, Maya tinggal di rumah kandang jaran.
Baca Juga: Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan
Ia dianggap seperti anaknya sendiri. Maya anaknya rajin. Pinter bergaul. Temannya banyak. Beberapa temannya anak pejabat tinggi di AKABRI sehingga Maya sering ditraktir dan diajak plesir.
Berkat bimbingan dan doa yang tak kenal lelah dari Yayu Kur, ketiga anaknya mampu bersekolah tinggi. Alief kuliah di FMIPA Kimia Universitas Brawijaya Malang.
Kini Alief bekerja sebagai kepala laboratorium migas di British Petroleum, Tangguh, Papua. Gaji besar dari perusahaan migas raksasa dari Inggris itu, dipakai untuk membangun madrasah dan sekolah di Desa Kaliwulu, Plered, Cirebon.
Alief kini punya sekolah SD dan madrasah unggulan gratis untuk siswa tak mampu, dan sekarang tengah membangun pesantren tahfid di Kaliwulu. Alief bercerita, ada orang kaya di Cirebon yang menghibahkan tanah luas dan bangunannya untuk dijadikan sekolah. Tapi saratnya, Alief yang mengelola keseluruhannya. Wah. Luar biasa.
Baca Juga: Benjamin Netanyahu 'Tantrum', Batal Kirim Delegasi Israel ke AS Gegara Ini
Ade, alumnus STAN, Jakarta bekerja di Departemen Keuangan.Karena waktu kuliah dapat gaji, Ade ikut menanggung biaya kuliah kakaknya Alief di Malang.
Sedangkan Maman yang kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, di samping dibantu keuangannya oleh Ade, juga oleh Alief setelah kakak sulungnya itu kerja.
Ketika ambil spesialis THT di UGM, biaya kuliah Maman yang mahal, ditanggung Alief sepenuhnya.