In Memoriam Trisno S. Sutanto
Oleh: Swary Utami Dewi, Associate Penulis Satu Pena/Konsultan Lingkungan/Mahasiswi S-3 UI
SENAYANPOST -- Trisno S. Sutanto. Demikian nama tokoh pluralisme yang aktif dalam tulisan dan tindakan yang tidak pernah mengenal kata lelah itu.
Aku memanggilnya Abang Trisno, bagiku Abang senior yang satu ini nyentrik, ku mengenalnya sudah puluhan tahun.
Seingatku sejak di acara-acara diskusi Paramadina di pertengahan tahun 1990-an. Dari dulu, ia berwatak ceria dan humoris.
Tiba-tiba ia suka berpendapat unik saat diskusi dan itu menunjukkan kecerdasannya, untuk isu kebinekaan dan kebangsaan ia jagonya; Sejago sifatnya yang nyentrik.
Aku masih ingat. Dulu di sela-sela diskusi, Bang Trisno -- kolumnis produktif alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta -- terkadang menunjukkan lembaran-lembaran ketikan buah pikirannya.
"Hayo, baca ini," ujarnya. Aku biasanya membaca sekilas lalu memberikan kembali kertas-kertas itu. Tulisannya memang lebih banyak tentang isu kebinekaan, pluralisme, hak asasi manusia ( HAM), seputar itulah.
"Keren, Bang," ujarku, yang biasanya disambut tawa lepasnya. Bisa jadi tulisan-tulisan itulah yang kemudian menjadi buku Politik Kebinekaan: Esai-Esai Terpilih, yang diterbitkan pada 2020.
Setahuku, Bang Trisno mengagumi pikiran-pikiran Cak Nur dan Gus Dur. Maka tidak heran ia getol menyambangi diskusi-diskusi yang ada dua tokoh ini.
Baca Juga: Malaysia Kehilangan Rp126 Miliar karena Jalan Tol Gratis untuk Mudik, Indonesia Berani Tidak?
Ia menyimak dengan serius dan mencatat. Dan tampaknya, perjumpaan-perjumpaannya dengan para guru bangsa inilah yang membentuk pemikiran Bang Trisno.
Ia seakan -- dan memang -- menemukan cintanya pada isu-isu "serius" tentang pluralisme, kemanusiaan dan kebangsaan.
Artikel Terkait
Opini: Aaron Bushnell, Tentara AS Bakar Diri Demi Palestina
Opini: Hak Angket dalam Transparansi dan Akuntabilitas Syariah Islam
Opini: Fakta yang Lebih Fiksi dari Fiksi
Opini: Bansos Tanpa Pamrih
Opini: Syariah Islam dalam Kitab Kama Sutra Assikalaibineng
Opini: The Miracle Man, Kisah Masjid Sholawat dan Denny JA
Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan