Opini: Malaikat dari Kandang Jaran Itu Telah Pergi

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Kamis, 4 April 2024 | 20:10 WIB
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon

Tapi ya, dari pada kontrak rumah, lebih baik diterima aja. Meski harus membersihkan semak-semak, rumput dan menghilangkan bau tak sedap di rumah itu.

Baca Juga: Opini: Kebhinekaan untuk Kemanusiaan

Bau tak sedap? Ya. Karena rumah kosong itu bekas kandang jaran. Rumah itu kosong setelah jaran-jarannya dipindahkan ke kandang yang lebih baik. Mang Udin menempati kandang jaran itu.

Rumah berdinding kusam ini, interiornya tidak seperti rumah biasa. Ada kolam di samping rumah cukup besar. Kolam ini untuk memandikan jaran. Tapi kolam di dalam rumah kecil.

Selebihnya ruangan dalam yang terbuka dengan kamar yang disekat-sekat. Maklumlah, itu bukan rumah untuk manusia. Tapi rumah jaran.

Aku ingat, di samping rumah ada sedikit lahan kosong. Yayu Kur -- aku memanggilnya Yayu Kur karena ia kakak sepupuku -- memanfaatkan lahan itu untuk menanam berbagai macam pepohonan.

Baca Juga: Rencana Diskon Tarif Jalan Tol pada Musim Mudik 2024

Ada singkong, bayam, tomat, terong, dan lain-lain. Dari lahan itu, sayuran tinggal ambil. Tak perlu beli di warung. Di samping rumah, ada pohon alpukat yg tumbuh subur.

Pohon alpukat ini, selalu berbuah. Sepanjang tahun. Aku sering memetik buah alpukat ini dan membawanya ke kosku di Yogya.

Dengan gaji pegawai negeri golongan dua, Mang Udin menghidupi keluarganya. Tentu tak cukup gaji golongan dua untuk menghidupi keluarga kala itu.

Apalagi Mang Udin dan Yayu Kur, kemudian punya tiga anak laki-laki. Alief, Ade, dan Maman.

Baca Juga: Yes, Jalan Tol Jakarta Cikampek II Dibuka Gratis untuk Mudik Lebaran

Semua anak ini, di samping sekolah, diikutkan latihan bela diri di kompleks AKABRI. Alief dan Maman ikut karate. Ade ikut silat di padepokan Pamur, pencak silat Madura.

Yayu Kur adalah ibu yang amat perhatian terhadap sekolah anak-anaknya. Tiap malam ia membimbing anaknya membaca buku dan latihan matematik. Hasilnya, anak-anaknya senang membaca.

Salah satu bacaan favoritnya, buku serial Api di Bukit Menoreh, karya SH Mintardja. Puluhan seri buku Api di Bukit Menoreh berserakan di rumah kandang jaran itu. Aku pun sering mojok di kandang jaran untuk membaca serial Api di Bukit Menoreh.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Opini: Bansos Tanpa Pamrih

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X