Sejak berkampanye saat pemilu hingga menjadi presiden terpilih, Presiden Prabowo tetap konsisten menjunjung tinggi politik luar negeri “bebas-aktif” sebagaimana amanah founding fathers Republik Indonesia. Peran aktif dalam melaksanakan ketertiban dunia, menjalankan politik bebas aktif (non blok), berjuang menghapus segala bentuk penjajahan di atas dunia, serta mewujudkan perdamaian abadi dapat dicapai dengan berbagai ikhtiar. Diantara ikhtiar yang paling nyata itu bernama “diplomasi”.
Pada 5 September 2025, saat peringatan Maulid Nabi, Presiden Prabowo mengajak semua pihak agar senantiasa meneladani sifat Nabi Muhammad SAW. Presiden Prabowo mengatakan bahwa tidak hanya menjadi ajang mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga momentum untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah. Presiden Prabowo mengajak, hendaknya teladan Rasulullah menjadi cahaya penuntun kita untuk senantiasa berbuat baik, menumbuhkan semangat gotong royong, memperkuat persatuan, dan mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera.
Dalam lintasan sejarah manusia, terdapat suatu kisah yang amat memukau, yaitu peristiwa pertempuran yang dilakukan secara damai. Perebutan sebuah kota tanpa luka. Peristiwa itu bernama Fathu Makkah.
Pelajaran dari Fathu Makkah
Suatu pagi menjelang siang di hari Jumat yang agung, 1439 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Ramadhan 8 Hijriyah, terjadi peristiwa besar yang sangat bersejarah yaitu Fathu Makkah. Nabi Muhammad SAW dan para pasukannya meraih kemenangan, berhasil menaklukan Kota Makkah. Hal yang paling menakjubkan, peristiwa tersebut dilakukan secara damai, tanpa ada darah yang tertumpah.
Pada 10 Ramadhan 8 H (1 Januari 630 M), Rasulullah SAW bersama 10.000 pasukan dari Kota Madinah bergegas menuju Kota Makkah. Pasukan dibagi menjadi 4 divisi dan merangsek masuk ke Kota Makkah melalui 4 penjuru. Pada 20 Ramadhan itulah, Rasulullah SAW dan pasukan berhasil membersihkan Ka'bah dari berbagai berhala dan melaksanakan tawaf. Fathu Makkah yang dilakukan secara cepat dan damai tersebut menjadi sebuah proses penaklukan kota yang terhebat sepanjang sejarah manusia.
Saat itu Rasulullah SAW memerintahkan para pasukannya untuk tidak menumpahkan darah. Rasulullah SAW memberikan pemaafan kepada penduduk Makkah, dimana sebelumnya mereka memusuhi Islam. Karenanya, Fathu Makkah sering disebut "Pembebasan Tanpa Darah". Peristiwa agung tersebut telah mengubah Kota Suci Makkah menjadi kota yang berlandaskan Keimanan kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Rasulullah SAW menundukan kepala sebagai cermin kerendahan hati, syukur kemenangan, mengusir kesombongan dan menahan hawa nafsu. Peristiwa besar itu diabadikan dalam Al-Qur'an, Surah Al-Fath dan An-Nasr.
Merebut kembali kuasa kota tanpa kekerasan, menebar perdamaian dan persaudaran, mengikis habis egosentris, dan menghapus keinginan balas dendam. Itulah spirit suci Fathu Makkah. Penulis ber-husnudzon, barangkali inilah diantara spirit yang digelorakan Presiden Prabowo dalam menjalankan “diplomasi politik luar negeri” sebagai manifestasi dari perwujudan tujuan nasional bangsa Indonesia.
Pelajaran penting lainnya dari peristiwa bersejarah Fathu Makkah, bahwa jalan perdamaian harus menjadi pilihan utama dalam setiap penyelesaian konflik. Namun pada saat yang sama, sebuah negara harus membangun kekuatan pertahanan yang kuat, baik kekuatan alutsistanya (alat utama sistem senjata) maupun kekuatan pasukan sumber daya manusianya.
Pada 10 Maret 2026 saat peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Presiden Prabowo menyatakan bahwa peringatan Nuzulul Quran menjadi momentum untuk menegaskan kembali makna perdamaian dan persatuan di tengah kondisi dunia yang berbahaya. Presiden berpesan bahwa momentum ini kesempatan untuk memahami dan meresapi makna perdamaian yang diajarkan di dalam Al-Quran. Kitab suci umat Islam memuat pesan bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang lumrah sehingga semestinya tidak membawa perpecahan, karena kebinekaan justru menjadi dasar yang kuat untuk membangun persatuan.
Presiden Prabowo mengajak semua pihak untuk menghormati semua kekuatan di dunia, yang besar ataupun yang kecil, karena merupakan jalan yang telah dipilih oleh para pendiri bangsa untuk selalu menjaga perdamaian. Indonesia butuh pemimpin yang bersedia melindungi segenap rakyat, apa pun suku, ras, dan agamanya. Sebab, pemimpin sejatinya memiliki kekuasaan yang bersumber dari Tuhan. Adapun kekuasaan harus digunakan untuk membela kebenaran serta membawa kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.
Diplomasi Prabowo
Gagasan strategis Presiden Prabowo disajikan dalam bukunya berjudul: Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045 (2023). Landasan perjuangan Presiden Prabowo dalam memimpin bangsa Indonesia adalah “Satyagraha”. Memimpin dengan ilmu, memimpin dengan hati, memimpin dengan anjuran, memimpin dengan Pendidikan, memimpin dengan keberpihakan kepada bangsa sendiri.
Prabowo mengajak untuk berjuang di atas landasan “Satyagraha”, yaitu perjuangan tanpa kekerasan, penjuangan tanpa henti yang berlandaskan pada kebenaran. Perjuangan yang merangkul dan mempersatukan semua. Landasan ini menurut Prabowo telah dicontohkan Mahatma Gandhi di India, Martin Luther King di Amerika, dan Nelson Mandela di Afrika Selatan.
Saat kampanye Pemilu Presiden, Prabowo mengusung cita-cita pembangunan bangsa dalam 8 butir Asta Cita. Berkenaan dengan “politik luar negeri”, termaktub dalam cita-cita kedua yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Politik luar negeri bebas aktif menjadi landasan utama yang dipertahankan dan diintegrasikan ke dalam visi yang secara spesifik tercermin dalam visi Astacita kedua. Dalam konteks politik luar negeri bebas aktif digunakan sebagai alat untuk mendukung kepentingan nasional seperti menjaga kedaulatan, keamanan, dan ekonomi di tengah rivalitas kekuatan besar.
Dalam hal implementasi kebijakan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia akan terus bersikap non-blok, tidak memihak pakta militer manapun, serta menjalin hubungan baik dengan semua pihak dalam upaya menjaga stabilitas kawasan. Kebijakan tersebut juga menekankan keaktifan Indonesia dalam diplomasi internasional dalam rangka menciptakan perdamaian dunia serta memperkuat ekonomi nasional.