Mush’ab Muqoddas, Lc
Anggota LDK PW Muhammadiyah Jawa Timur
Beberapa hari ini, publik media sosial digemparkan dengan adanya beberapa orang yang melaporkan Wakil Presiden Republik Indonesia Ke-10 dan ke-12 Dr (HC) Muhammad Jusuf Kalla (lebih akrab selanjutnya kita tulis Pak JK) ke suatu Polda dengan tuduhan menyerang agama tertentu di Indonesia.
Mereka ini menggunakan video Pak JK saat sedang berceramah di suatu masjid. Pada ceramah tersebut, Pak JK bercerita (sekali lagi BERCERITA atau MENGKISAHKAN), pengalamannya saat mendamaikan konflik sektarian di Ambon dan Poso pada tahun 2002 dan 2003 lalu.
Saat ceramah tersebut, mengkisahkan salah satu kesulitan yang dihadapinya adalah pada pemahaman Umat Islam dan Umat Kristiani terhadap ajaran agama mereka yang menyebutkan pertempuran atas nama agama akan menghasilkan surga.
Sebagai umat beragama, kita meyakini bahwa semua agama memiliki ajaran yang ingin mewujudkan perdamaian dan kasih sayang kepada sesama manusia. Hanya saja, pada perkembangannya, umat beragama yang merupakan umat manusia, memiliki nafsu keduniawiyan yang kadang dapat dikendalikan dan seringnya sulit dikendalikan.
Sejarah mencatat terjadinya Perang Salib selama beberapa abad, bukan hanya pertempuran antara Umat Islam dengan Umat Kristiani, bahkan antara sesama Umat Kristiani sendiri. Tahun 1204 menjadi saksi saat Tentara Salib yang bermazhab Katholik dari Eropa memasuki kota Konstantinopel ibukota Romawi Timur yang mayoritas penduduknya bermazhab Orthodoks, mereka justru menjarah Konstantinopel. Perang Salib IV ini dianggap sebagai salah satu skisma terbesar dalam konflik berkepanjangan antara Gereja Barat dan Gereja Timur.
Salah satu upaya Pak JK yang saat mendamaikan Poso dan Ambon menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat adalah pendekatan kepada tokoh-tokoh agama, baik dari Umat Islam dan Umat Kristiani, agar narasi keagamaan yang berada di Ambon dan Poso dapat kembali mendamaikan. Narasi-narasi yang mendamaikan bertujuan untuk meminimalisir konflik.
Alhamdulillah, pada saat itu, tokoh-tokoh Umat Islam, baik dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama termasuk Majelis Ulama Indonesia, memberikan dukungan kepada upaya Pemerintah Indonesia dalam menciptakan suasana yang mendamaikan. Begitu juga tokoh-tokoh Gereja Kristiani. Poso dan Ambon kembali menjadi simbol persatuan dalam kebhinekaan berbangsa dan bernegara.
Kasus Perang Salib dari para prajurit kerajaan-kerajaan Eropa mengekspansi Tanah Syam yang merupakan bagian dari Tanah Arab, adalah salah satu contoh penafsiran ajaran-ajaran agama yang seharusnya menarasikan perdamaian dan kasih sayang, menjadi penafsiran yang bengis penuh kebencian. Begitu juga dengan sejumlah tokoh di Pemerintahan Israel saat ini seperti Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir yang menganggap umat manusia selain Yahudi seperti Binatang yang harus disingkirkan jika tidak mau tunduk dan dikuasai.
Pandangan Itamar Ben-Gvir ini tentu bertentangan dengan ajaran Agama Yahudi yang menjunjung tinggi tauhid, perdamaian dan penghormatan kepada kemanusiaan. Jelasnya, pandangan Itamar Ben-Gvir tidak dapat menjadi representasi akan ajaran Agama Yahudi.
Jika kita kembali melihat konflik Ambon dan Poso, latar belakangnya adalah masalah politik dan ekonomi yang menjadi konflik sosial berujung pada malapetaka kemanusiaan. Sayangnya, narasi-narasi keagamaan yang seharusnya mendamaikan dijadikan sebagai legitimasi aksi kekerasan.
Begitu juga dengan Perang Salib serta serangan Israel ke Jalur Gaza Palestina dan serangan Amerika Serikat bersama Israel atas Iran, memiliki latar belakang politik dominasi yang saling menikung dan ekonomi monopoli yang menggiurkan. Sayangnya, narasi yang disampaikan oleh PM Israel Benjamin Netanyahu adalah narasi-narasi keagamaan yang menyesatkan, termasuk narasi kembalinya peristiwa holocaust. Padahal, rakyat Israel sendiri mengetahui tujuan Benjamin Netanyahu hanya ingin menghindari persidangan atas kasus-kasus korupsi yang menjeratnya.