Judul Buku: Media Massa Nasional Menghadapi Disrupsi Digital
Penulis: Agus Sudibyo
Penerbit: KPG
Tahun Terbit: 2022
Hal: 293 hlm
ISBN: 978-602-481-935-4
Media massa kini dipenuhi oleh berbagai berita yang hanya mengedepankan sensasi dan dipenuhi judul-judul berita clickbait. Seperti halnya pemberitaan peristiwa pemukulan Rafathar oleh teman sekolahnya. Di liputan6.com, terhitung 6 berita yang ditulis dalam kurun waktu 4 hari. Beberapa tulisan seharusnya bisa disatukan dalam satu bentuk berita, ditambah lagi berita tersebut tidak didukung oleh proses verifikasi yang baik.
Poin penting dari berita tersebut hanya sekedar perasaan kedua orang tua Rafathar yang mengambil tindakan setelah anaknya dipukul. Bila menilik pemberitaan di kompas.com, kita juga dapat menemukan judul yang hanya diubah sedikit kata-kata dan kutipannya saja.
“Rafathar Ditonjok Teman sampai Biru, Raffi Ahmad: Di Sini Perlunya Kehadiran Seorang Bapak” dan “Rafathar Ditonjok sampai Biru sama Temannya, Raffi Ahmad: Orangtua Harus Bijak Jangan Tersulut Emosi”.
Ramai-ramai media massa memberitakan Rafathar hanya didasari pada kedua orang tuanya yang menjadi seorang tokoh publik atau selebritas. Namun bukan berarti hal ini dibenarkan bila media hanya menjadi humas selebritas.
Bila ditilik dari konten beritanya, tulisan media hanya berpacu untuk mendulang klik tanpa ada proses verifikasi yang jelas. Alih-alih memenuhi rasa penasaran terhadap kehidupan seorang selebritas, media massa dapat menyajikan data dan analisis mengenai jumlah perundungan yang terjadi di sekolah. Segi-segi edukasi berbasis data semacam ini justru terpinggirkan dan media hanya menonjolkan kehidupan Rafathar sebagai anak dari seorang tokoh publik.
Dalam buku “Media Massa Nasional Menghadapi Disrupsi Digital”, Agus Sudibyo sebagai anggota Dewan Pers periode 2019-2022 juga menjabarkan hal serupa. Dalam konteks hilangnya Eril di sungai Aare, Swiss, media justru melakukan verifikasi kepada peramal. Jurnalsoreang.com menulis berita berjudul “Makin Yakin Eril Masih Hidup? Bunda Mustaini: Analisa Pak Ridwan Kamil Sama Dengan Penglihatan Bunda”.
Selain Verifikasi, berita seharusnya tidak mengedepankan opini atau ramalan yang tidak dapat dibuktikan keabsahannya. Verifikasi kepada pengamat tidak seharusnya dilakukan kepada orang-orang yang tidak terkait dengan peristiwa kecelakaan Eril. Fungsi disiplin verifikasi seharusnya dapat menyaring gosip, desas-desus, manipulasi, atau ingatan yang keliru.
Baca Juga: Gus Irfan Sang Reformis Haji: Dari Sistem hingga Epistem
“Merujuk pada elemen jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosentiel, terasa benar betapa memprihatinkan berita-berita yang telah dikaji dalam tulisan ini. Banyak media telah mengidap kelemahan fundamental, yakni mengabaikan pentingnya disiplin verifikasi.” hlm. 92.
Mengejar Skema Programatik
Di dunia digital, media massa terjebak pada penyediaan iklan yang diberikan oleh platform digital raksasa bernama Google. Merujuk data StatCounter, pangsa pasar mesin pencari Google di Indonesia sebesar 97,99 persen. Hal ini menunjukan adanya indikasi monopoli pasar periklanan digital di Indonesia.
Dalam konteks monopoli pasar, Google setidaknya menguasai empat hal dalam aspek periklanan digital. Pertama, slot iklan (ad inventory) dalam bentuk Google Search dan vidio Youtube. Kedua, teknologi yang digunakan pengiklan untuk membeli slot iklan secara daring seperti Google Ads.
Ketiga, perangkat yang digunakan penerbit untuk menjual spaces iklan kepada pengiklan, seperti Ad Manager dan AdSense. Keempat, Google juga mengoperasikan teknologi lain yang mendukung model periklanannya, seperti Google Chrome dan Google Analytics.
Artikel Terkait
CEO Promedia Agus Sulistriyono Berharap Hari Pers Nasional Jadi Momen Penting Hargai Dedikasi dan Kerja Keras Para Jurnalis di Tanah Air
Presiden Prabowo kepada Pemred Media soal Miskinkan Koruptor: Pantas Kalau Negara Sita Aset, Harus Adil
Mediapreneur Talks Promedia 2025 Siap Digelar di Banten: Seminar Bisnis untuk Jurnalis hingga Pengusaha Media
Pertarungan Narasi Papua di Media Digital pada Pemilu 2019 dan 2024
Analis Komunikasi Politik: Prabowo Perlu Intens Bicara ke Media, Bukan Influencer, untuk Redakan Kegelisahan Publik
CEO Promedia Kritik Pencabutan ID Card Jurnalis Istana: Bisa Rusak Citra Presiden