"Selama ada kekuatan seperti itu (di Kyiv), akan ada, katakanlah, tiga tahun gencatan senjata, dua tahun konflik, dan semuanya akan terulang kembali," lanjutnya.
Baca Juga: Erdogan Menangkan Putaran Kedua Pemilu, Kilicdaroglu Tuding TRT 'Pelindung Teroris'
Saat ini, Rusia dan Ukraina sulit mendapat kata sepakat di meja perundingan.
Belum lama ini, Ukraina mendapat bantuan dari AS setelah Presiden Volodymyr Zelenskyy terbang ke Hiroshima, Jepang.
Di sana ia bertemu dengan Presiden AS Joe Biden.
Baca Juga: Alumni PA 212 Angkat Bicara soal Konser Coldplay: Novel Bamukmin Lebih Tahu Nama Vokalisnya
AS sepakat untuk memberikan bantuan kepada Ukraina dalam perangnya melawan Rusia.
Hal ini juga yang membuat Rusia sulit untuk menghentikan apa yang disebut 'Operasi Militer Khusus' yang berlangsung sejak 24 Februari 2022.
Beberapa negara sempat menjadi peace broker antara kedua negara, namun gagal.
Baca Juga: Tari dan Musik, Kesenian Suci dalam Peradaban Mesir Kuno
Baru-baru ini, Rusia dan kelompok tentara Wagner merebut Kota Bakhmut yang selama belasan bulan menjadi perebutan kedua negara.
Dikenal sering melontarkan komentar garis keras terhadap Ukraina dan mereka yang dianggap sebagai musuh Moskow, Medvedev mengatakan awal tahun ini bahwa kekalahan Rusia dapat memicu perang nuklir.***