Obama yang pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 2010, telah mendapatkan sambutan yang istimewa dari masyarakat Indonesia, apalagi karena di masa kecilnya Obama pernah tinggal di Indonesia serta bergaul dengan sebayanya anak-anak Indonesia, sehingga ia masih ingat benar adanya pedagang sate dan bakso di kediamannya di kawasan Menteng - Jakarta Pusat.
Baca Juga: Ketika Teknologi Semakin Canggih, Maling Kotak Amal Masjid Pun Bisa Pakai Barcode QRIS
Ketika memberikan sambutan di Aula Universitas Indonesia para mahasiswa-mahasiswa seolah-olah terkena sihir kharisma Obama, apalagi ketika ia mengatakan kedatangannya di Indonesia adalah untuk pulang kampung, benar-benar tepuk tangan riuh menggema di seluruh sudut Aula Universitas.
Yang menarik untuk didalami dan dianalisa adalah mengapa Trump jagoannya Taipan-Taipan Zionis Yahudi di Amerika Serikat, saat ini sebaliknya “dikorbankan“ oleh rekan-rekannya kalangan Taipan-Taipan Zionis Yahudi yang secara remote dikendalikan oleh Mossad di bawah tokoh garis keras Israel David Barnea?
Mengapa Israel balik badan korbankan Trump?
Ada beberapa analisa untuk menjawab pertanyaan di atas. Antara lain adalah Israel yang saat ini politik luar negerinya dikuasai oleh kelompok garis keras, politisi-politisi beraliran kanan yang menghendaki hasil pemilu Presiden USA 2024, yang akan datang tidak dimenangkan oleh Donald Trump yang bersikukuh hendak “come back” sebagai Presiden Amerika Serikat 2024.
Baca Juga: Jokowi Wanti-wanti para Gubernur Soal Mudik Lebaran 2023: Ini 123 Juta Orang, Hati-hati
Trump dianggap oleh pihak Israel sebagai Presiden Amerika Serikat yang sepak terjangnya kontroversial dan urakan bahkan arogan, disamping itu situasi dan kondisi politik dunia saat ini tidak cocok bila Amerika Serikat dipimpin oleh seorang Trump.
Amerika Serikat ke depan membutuhkan figur-figur tenang dan kharismatik layaknya Clinton atau Obama, walaupun sampai dengan saat ini siapa calonnya belum muncul ke permukaan.
Rupanya kekuatan kanan di Israel tidak menghendaki bekerja sama dengan partai Republik dan memilih bekerja sama dengan politisi politisi partai Demokrat, yang biasanya lebih berpikir realistis dalam hubungannya dengan negara-negara berkembang di kawasan Asia Afrika bahkan Amerika Latin seperti Meksiko, Paraguay, Kolombia dan lain sebagainya.
Demikian pula Presiden Amerika Serikat terpilih 2024, diharapkan dapat bekerja sama lebih erat dengan negara-negara berkembang di Asia khususnya Indonesia, karena kepentingan-kepentingan politik terutama ekonomi Amerika Serikat di Indonesia sangat signifikan.
Diperlukan seorang tokoh/Presiden Amerika Serikat, yang dapat bekerjasama dengan Presiden terpilih Republik Indonesia 2024.
Dalam hal ini tampaknya Anies Baswedan menjadi pilihan utamanya, mengingat yang bersangkutan pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat, dan mendapatkan dukungan terutama dari kelompok Islam garis keras seperti Kelompok 212, Khilafah bahkan Partai Keadilan Sejahtera yang mempunyai hubungan baik dengan Amerika Serikat melalui dubes Amerika Serikat di Indonesia Sung Yong Kim.
Dalam hal tersebut di atas rupanya sampai dengan saat ini belum ada reaksi apapun dari pihak pemerintah, termasuk Presiden Jokowi dan partai pendukungnya PDI-Perjuangan, walaupun Anies jelas-jelas dapat dikatakan mencuri start, dengan melakukan kampanye ke daerah-daerah di seluruh Indonesia sebelum waktunya untuk capres-capres berkampanye.
Menurut hemat penulis manuver-manuver Anies tersebut, paling tidak secara psikologis dapat mempengaruhi pola pikir para pemilih terutama di basis-basis massa, bahkan besar kemungkinan dapat “menggerus” suara pemilih dari para capres-capres dari partai-partai yang lain.
Artikel Terkait
Opini : Perhelatan Piala Dunia U 20 yang Batal l Oleh AM Hendropriyono
Opini : Hentikan Gaduh antar Anghita Negara Kekeluargaan l Oleh AM Hendropriyono
Opini : DPR Bukan Lembaga Peradilan l Oleh Imam Anshori Saleh
Opini: Mengapa Israel Sangat Berpengaruh di Dunia?
Opini: Sihir Pesohor di Pemilu 2024