Laporan Intelijen AS: Iran Tak Akan Buka Selat Hormuz dalam Waktu Dekat

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Sabtu, 4 April 2026 | 19:09 WIB
Ilustrasi, dalam laporan intelijen AS atau CIA, kemungkinan Iran tidak akan membuka Selat Hormuz dalam waktu dekat. (Instagram.com/@cia)
Ilustrasi, dalam laporan intelijen AS atau CIA, kemungkinan Iran tidak akan membuka Selat Hormuz dalam waktu dekat. (Instagram.com/@cia)

"(Teheran) akan berupaya mempertahankan pengaruh yang telah mereka temukan kembali dengan mengganggu lalu lintas," melalui selat tersebut, kata mantan direktur CIA Bill Burns dalam sebuah podcast majalah Foreign Affairs pada hari Kamis.

Iran, katanya, akan berupaya menggunakan kemampuannya untuk membatasi jalur air tersebut untuk mendapatkan 'jaminan pencegahan dan keamanan jangka panjang' dalam kesepakatan damai apa pun dengan AS dan untuk mendapatkan 'beberapa manfaat materi langsung' seperti mengenakan biaya pelayaran untuk mendanai pemulihan pasca-perang mereka.

"Itu, menimbulkan negosiasi yang sangat sulit saat ini," katanya.

Sementara itu, tiga kapal tanker yang dioperasikan Oman, sebuah kapal kontainer milik Prancis, dan sebuah kapal pengangkut gas milik Jepang telah melintasi Selat Hormuz sejak Kamis, menurut data perkapalan, yang mencerminkan kebijakan Iran untuk mengizinkan kapal-kapal yang dianggap bersahabat untuk melintas.

Baca Juga: Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Tukar Pandangan soal Konflik dan Stabilitas Kawasan

Pasar minyak dan komoditas sangat menantikan tanda-tanda bahwa lalu lintas kembali normal.

Beberapa kapal tanker dan kapal kontainer berhasil lolos dari blokade dalam beberapa minggu sebelumnya, tetapi aktivitas tersebut dengan cepat diikuti oleh hari-hari tanpa aktivitas sama sekali.

Sebuah kapal kontainer milik CMA CGM Prancis melintasi Selat pada hari Kamis, hari di mana Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa hanya upaya diplomatik, bukan operasi militer, yang dapat membuka Selat tersebut.

Kapal Prancis tersebut mengubah tujuan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) menjadi 'Pemilik Prancis' sebelum memasuki perairan Iran, yang menandakan kewarganegaraannya kepada otoritas Iran.

Kapal-kapal tersebut tampaknya telah mematikan transponder AIS mereka selama penyeberangan karena sinyalnya menghilang pada data pelacakan kapal.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Times of Israel

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X