"Negosiasi dilakukan tapi berujung penyerangan. Bagaimana bisa dipercayakan kembali? Apa jaminannya sebuah kesepakatan tidak dimanfaatkan atau disalahgunakan?" ujarnya.
Terbaru, Iran telah melangsungkan negosiasi lewat perantara Oman dengan Amerika Serikat.
Namun lagi-lagi negosiasi tersebut berujung serangan yang terjadi pada Sabtu pagi pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut telah menewaskan pejabat tinggi Iran termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Meski demikian, Boroujerdi menegaskan Iran tetap menginginkan jalur diplomasi.
"Kami adalah pihak yang mengharapkan negosiasi dan ingin diplomasi, tetapi pada saat yang sama tidak ingin menjadi pihak yang ditipu oleh negosiasi," tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa bagi Iran, persoalan utama dalam konflik saat ini bukan hanya perbedaan kepentingan strategis, tetapi juga runtuhnya fondasi kepercayaan yang dibutuhkan untuk mencapai kesepakatan diplomatik yang berkelanjutan.***
Artikel Terkait
Dino Patti Djalal: Konflik Iran Bisa Jadi Pengalihan Isu Domestik Trump di Tengah Kasus Epstein
Viral Semua Penerbangan di Timur Tengah Diklaim Tertunda usai Meletusnya Perang Israel vs Iran
Cerita Tresnany Moonlight yang Tak Hanya Dengar Suara Ledakan tapi Pecahan Rudal Iran Jatuh ke Hotel
Beredar Video Pidato Trump dan Netanyahu Menggunakan Bahasa Persia di Siaran TV Iran
Dubes Iran: Israel Bukan Anggota NPT, Tapi Serang Teheran dan Menuduh Kami Ancaman